lebaranku?

Pagi ini aku terjaga dari mimpi buruk yang membuatku menangis di dalam mimpi. Mata terasa bengkak dan bangun dalam keadaan sedih. Sepertinya tidurku malam tadi sangat nyenyak, hingga tahapan REM (Rapid Eye Movement) terlewatkan saja. Terbangun dalam kondisi gelombang delta yang berkurang drastic dan tergantikan dengan gelombang alpha, membuatku tercenung. Ku pijat bagian frontal lobe dan kuputuskan untuk mandi. Tak perlukau tanyakan dan bahkan tak akan ku ceritakan apa mimpiku semalam padamu
Jujur saja, dalam kondisi cuaca buruk begini, aku sangat malas untuk berangkat ke masjid yang lokasinya tidak dekat itu.. namun hari ini bukan hari biasa. Hari ini adalah hari raya idul adha. Jangan kau pikir tak pernah ku habiskan waktu ku di kamar saat hari raya umat islam. Hasilnya adalah? Kelabu.
Biasanya aku ke masjid menggunakan bus kampus atau menggunakan subway, namun hari ini tak ada gairahku untuk pergi bersafar dengan jalan kaki setelah turun di halte subway terdekat. Maka kuputuskan untuk menggunakan JR (Japan Railway). Hah dan pada hari ini aku sadar, bahwa pertama kalinya aku melihat shinkansen yang sangat terkenal seantero bumi ini di depan mata kepala. Setahun di Jepang tanpa pernah kembali menginjakkan kaki di bumi pertiwi ternyata masih belum cukup untuk melakukan PDKT dengan kota bernama fukuoka ini.
Sampai di Masjid, telah berkumpul masyarakat muslim se-Fukuoka, interior masjid di hias dengan balon dan membuat senyum setiap yang memandang. Ya aku benar benar dalam suasana idul Adha kali ini. Suara takbir tasbih dan tahmid terus dikumandangkan. Dan nyess,,,bahkan tak perlu kau tanyakan bagaimana mataku saat mengetik tulisan ini. Cukup tau saja bagaimana caranya menahan rasa rindu yang meluap dan di saat yang sama engkau harus menampung sendiri luapa-luapan itu dan menelannya dan menahannya, jangan manja pada dunia.
Apa daya mata terpejam, mengikuti takbir tahmid nan dikumandangkan imam. Hanyut oleh buayan hayalan akan kampung halaman..(anggap saja Sumatra barat adalah kampung halamanku, karena Indonesia penganut Ius sanguinis, bukan Ius Soli.)aroma khas bedak mamaku terasa di kepalaku, mungkin aktifitas di bagian temporal lobe ku sedang tinggi, hingga aku masuk di dunia khayalanku. Terasa ditelingaku mamaku mengikuti tasbih, tahmid dan tahlil yang dikumandangkan sang imam. Aku yakin bila beliau di sini saat ini, dia sudah muntab dari pagi karena aku berleha-leha menuju masjid. Biasanya pagi –pagi buta dia sudah heboh membangunkan kami. tak perlu kau tanyakan apa yang terjadi ketika kombinasi khayalan dan nyata menjadi berbatas tipis. Memejamkan mata adalah saat ketika kita berdoa, atau mengingat sesuatu, tapi saat engkau memejamkan mata, saat itu pula gelombang alpha di otakmu muncul lebih dominan. Kadang kita menghubungkan aktifitas alpha dengan keadaan rileks, tapi apakah memejamkan mata kemudian mengalirkan cairan bening yang keluar dari sudut sudut mata juga merupakan keadaan rileks? Entahlah.
Aku rasa imam hari ini sangat pandai membaca rindu setiap insan. Dibacakannya surat al-isra ayat 23-30. Yang engkau tau saja surat al isra di ayat 23 tersebut merupakan teguran dan peringatan untuk kita duhai anak manusia yang masih mempunyai ayah bunda untuk jangan sekali-kali berkata ah,,,, tetiba teringat mama berkata “jangan begini nak nanti engkau menyesal” ya tak perlu ku deklarasikan, engkau pun tau bahwa aku bukan anak penurut dan cenderung suka membuat atau mencari masalah. Di umur yang sudah 23 tahun ini belum juga aku berbakti dan belum ada hal yang ku lakukan untuk mereka, mama dan papa. Ya engkau benar ma, bahkan saat ini aku menyesal, aku tak bisa melakukan apa-apa selain mengejar mimpi-mimpiku ini. Bahkan teringat terus kata-kata mama yang selalu memarahiku yang sangat tidak suka makan sayur. Tapi jepang sepertinya telah perlahan menyicil karma untuk ku, hingga aku tersadar bahwa sayur memang bagus untuk kesehatan. Ya aku menyesal tidak mengikutinya dari dulu-dulu. Mungkin saja bila rajin makan sayur badanku bisa tinggi dan punya kulit putih.
Lagi-lagi aku terdiam, ibarat sang imam solat idul adha benar benar membantuku untuk mengingat lagi akan kenakalan ku yang suka modus. Sang imam melanjutkan membaca surat al isra dan berlanjut ke ayat 32, wa la taqribu zina, “dan jangan dekati zina” oke lengkap aku tak bisa berkata kata.
Cinta katanya tak kenal batas dan jarak, hubungan persaudaraan tak kan pernah putus ibarat air. Iya kah? Sementara saat ini aku masih jadi warga kelas dua di hati orang-orang yang ku sayangi. Atau mungkin hanya perasaanku saja kah? Lalu kemana perginya abangku yang tak pernah dapat ku hubungi lagi itu? Aaa mungkin dia saat ini sedang tersenyum kecut ketika membaca tembakan langsung ku ini.
Ah ingin ku koreksi kata-kataku lagi, karena papaku selalu menjadikanku nomor 1 di hatinya. Aku yakin itu, bahkan ketika orang orang hanya terdiam dengan kepergianku dari tanah air, dia yang dengan sekuat tenaganya menahan air mata tetap memaksakan diri untuk mengantarku ke bandara International Kuala namu, medan. Setahun lama tak ku dengar orang memanggilku dengan “adek” yang ada adalah “mbak atau tante”. Teringat protesnya yang menampakan cemburunya betapa seringnya aku menghubungi mama dibandingkan menghubungi dirinya. Padahal bagiku menghubungi mama sama dengan menghubungi papa, paket lengkap. Tapi tidak bagi beliau, dan mungkin saja nama fadilla ini dia yang beri, karena tampak sekali dia mengutamakanku.
Ah tidak, aku tak ingin timpang. Aku teringat dalam batas semangatku yang hampir nol ketika sudah sangat jenuh dengan rutinitas yang itu-itu saja, mama dan papa bernyanyi di telpon untuk menghiburku.
“oh Amelia gadis cilik lincah nian, tak pernah sedih riang selalu sepanjang hari” mama menyanyi lagu tersebut dan papa pun bermain tebakan dengan berkata “adek ingat lagu yang sering papa nyanyikan?” lalu aku memberikan jawaban yang salah. Dia mengoreksi bahwa lagu yang sering dia nyanyikan adalah lagu anak salido, lalu bergantilah lagu bahasa Indonesia menjadi lagu-lagu berbahasa minang.. ajaib,,, bad mood ku hilang,, aa mungkin memang nama fadilla itu tak hanya diberikan oleh papa,, tapi juga mama,, makanya belakang namaku dibubuhkan zennifa,,, zen dan hanifah.
Tunggu? Bukankah ini cerita tentang lebaranku?
Ya lebaranku hari ini diisi dengan memori yang tersimpan dikepalaku dan dengan tepisan cemburu bahwa sampai detik ini tak kudapatkan telpon dari mereka. Apakah aku warga kelas 2? Entahlah. Haruslah ku tau diri bahwa 4910 KM bukan jarak yang dapat ditempuh dalam 3 jam untuk berjumpa. Mungkin inilah makna pengorbanan. Berjuang mengabaikan rindu demi pertemuan tanpa batas nanti.

Selamat idul adha
Fukuoka, 5 Oktober 2014

fukuoka padang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s