Untuk wanita bergelar ganda

Gatal tanganku untuk mengupdate status
ngantuk seharian, begadang semalaman.
” Ciri khas manusia yang dipanggil mahasiswa kalau sedang diburu deadline.. Siang ngantuk malam gak bisa tidur. Belum lagi kalau udah ada deadline, terus patah hati. Makin gak kenal yang namanya tidur. Yang namanya tidur pasti jadi aktivitas berharga.”
Kemudian aku berpikir, apa gunanya aku update status begitu.
Bisa jadi membuat kawanku yang tak lagi menjadi mahasiswa berpikir kalau gak cuma mahasiswa yang punya deadline.
Belum lagi bila aku di bully dan diolok-olok karena dikira status itu merupakan citra diriku sendiri yang telah menemukan rangga namun tak ada bedanya dengan kejadian yang dialami cinta.
Yap, sambil meneguk kopi latte, ku tuliskan catatan ini.
Berpikir adalah aktifitas yang selalu dilakukan oleh manusia disadari ataupun tidak.
Kembali merenung akan tulisan yang aku update.. Kemudian terlintaslah bayangan para wanita yang berlipat lipat rasa salutku pada mereka.
Menjadi mahasiswi single, dengan umur yang menurut kategori orang orang indonesia tak layak lagi untuk single, dihadapi deadline, dihadapi masalah kantong kering ataupun dihadapi masalah hormon. Bukan merupakan hal yang istimewa. Toh berbagai manusia baik pria maupun wanita di belahan bumi manapun pasti mengalami hal yang sama..
Lalu siapakah wanita yang tak henti rasa kagumku saat melihat mereka?
Itulah para wanita yang bergelar ganda, seorang ibu dan juga mahasiswa.
Bagaimana mungkin mereka dapat tertidur nyenyak, kehidupan diantara deadline yang menumpuk dan kehidupan para bayi bayi nya (yang meskipun sudah berumur 23 tahun) tentunya menjadikan tidur menjadi aktifitas yang luar biasa.
Semua hal yang dilakukan tentu memiliki dampak yang besar bukan untuk diri sendiri lagi… Tapi untuk sibuah hati dan keluarga..
Teringat aku akan seorang wanita yang sangat berprestasi. Temanku ini berasal dari mesir. Punya 2 orang anak yang duduk di sekolah dasar. Pernah dia menemukan ku menangis di toilet. Dan bertanya, ada apa? Lalu ku berkata, aku kesepian. Dan dia berkata, “manusia sepertimu menangis hanya karena kesepian tak punya teman jepang, gila namanya.”
Di waktu yang berbeda ku temukan dia yang menangis.
Ku tanyakan, mengapa engkau menangis?
Dia menjawab: “riset ku..”
Aku: “kenapa risetmu?”
Dia: “aku baru saja mendapatkan pemberitahuan bahwa aku lulus untuk mengikuti konferens di negara A. Tapi aku sedih sekali, aku hanya tampil sebagai peserta poster. Bukan oral session”
Perlu ku beri tahu kawan, bahwa teman ku ini yang kurasa engkau masih ingat bahwa dia merupakan seorang ibu. Sebelumnya pernah melakukan konferensi di beberapa negara, dan menjadi best presenter serta konferensi yang beliau hadiri itu berakreditasi “A”
Mendengar tangisannya itu, aku berkata.
“Kamu gila, aku kalau diterima konferensi saja sudah senang bukan main.., emang akreditasinya apa?”
Dia: “akreditasi konferensi ini adalah A+. Konferensi artificial inteligence”
Saat itu juga ingin ku tendang dinding layaknya hobi ran di komik conan.
Aku: ” apalagi diterima di konferensi dengan akreditasi A+ baah.. Bagiku itu hanya mimpi… Kamu harus tahu, salut aku padamu. Berprestasi, muda, memiliki anak anak.. Entah bagaimana caramu mengatur waktu.

Setiap ibu yang berani menjadi mahasiswa, menurutku itu sangatlah tangguh. Mencoba mengupgrade ilmu untuk menjadi contoh anak anaknya.
Belum lagi untuk seorang ibu yang rela berpisah jauh sementara dengan anaknya. Apalagi yang tidak membebani seorang ibu melainkan ketika jauh dari anaknya. Apalagi bila anaknya masih balita atau di tahun awal sekolah dasar..
Dan engkau para ibu, tetap menguatkan hati untuk menupgrade diri untuk jadi ibu yang terbaik.

Tapi terkadang, ada juga ibu yang memilih untuk melanjutkan kuliah ketika anaknya menginjak dewasa.. Ketika seorang ibu mencoba melanjutkan kuliah di usia yang menurut orang indonesia lebih cocok untuk menimang cucu. Ibu seperti ini ku rasakan memiliki beban hidup yang luar biasa. Siapa yang tak tau bagaimana manusia ketika berusia 18-23 tahun. Gejolak remaja yang sudah uzur namun terlalu dini untuk menjadi manusia dewasa, menjadikan kehidupan manusia berusia di rentang waktu ini menjadi sosok yang sulit dipahami.
Mulai jatuh cinta, mulai patah hati, mulai mengenal deadline, mulai mengenal begadang, mulai merasa mandiri untuk mengatur hidup hingga acapkali membantah orang tua. Untuk ibu yang sedang menjalani kuliah di dalam kondisi ini. Semoga Allah membalas jerih payahmu. Di balik tumpukan gunung buku, masih engkau coba memperingatkan anakmu untuk makan di sela sela deadlinenya. Padahal entah engkau sudah makan atau belum. Dibalik kecewamu atas progres penelitianmu, masih sempat engkau belai rambut anakmu yang baru saja mengalami patah hati pertamanya. Ah ini mengingatkanku akan sesuatu.. Seorang anak, mestilah berhati hati atas perkara jatuh hati, karena sesungguhnya ketika iya retak, yang patah adalah hati induknya.. Apalagi yang membuat orang tua sedih selain melihat anaknya menangis?
Tulisan ini membuat aku tersadar, bahwa tentu saja sangat masuk akal ketika rasul menyebutkan nama ibu, ibu dan ibu kemudian bapak ketika ditanyakan oleh sahabat.

Dan tulisan ini membuatku tersadar betapa egoisnya si penulis yang telah menjadi subject dari 3 kejadian yang dialami para ibu ini.
Ma.. Sekarang dilla mengerti.

Maka untukmu para ibu. Terimakasih mendalam ku sampaikan. Engkau adalah pelita dan inspirator manusia semacam kami.
Aze-2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s