Terbelahnya jiwa (Horcrux) episode 1

Hujan pagi ini membuat Fukuoka lebih hangat dari malam sebelumnya.
ya, Itulah anomali Fukuoka. pa bila hujan datang, maka suhu dibuminya akan lebih hangat dari suhu sebelumnya, terlebih bila ini terjadi di musim dingin.
Sambil sarapan oat dan teh manis, Kepala tetap saja dirundung pikiran-pikiran akan pengkhianatan. Entah apa yang terjadi pada aze di dunia sebelumnya yang dia lahirkan.
Dia butuh gantungan, orang yang dia percaya untuk mendengar dan menyimpan. Tapi dibelahan dunia manapun, tetap saja dia merasa dikhianati.
Ya sebut saja tokoh yang dibicarakan kali ini adalah Aze, horcrux ku sendiri.
Sembari bercermin, tampak matanya masih berkaca – kaca, kecewa dan tak percaya.
Ditepuk-tepuknya pipinya, menampar diri untuk bangun dan mencerahkan bumi.

Pintu pun dibuka, dan tombol no 1 pada elevator apartmentnya ditekan.
Pagi ini dia keluar dengan menggunakan berlapis – lapis jaket, dengan tambahan syal yang melingkar di leher dan topi yang melindungi kepala.
22 Tahun tinggal di bumi panas berlokasi di 6o LU (Lintang Utara) – 11o LS (Lintang Selatan) dan antara 95o BT (Bujur Timur) – 141o BT (Bujur Timur) menjadikannya makhluk yang rentan terhadap perubahan suhu.

Kakinya dilangkah kan menuju Kantor kecamatan Hakata. Tujuannya adalah mencetak surat tanda bahwa dia adalah penduduk Hakata.
Setelah berbasa basi dengan kalimat pembuka “sumimasen”, berkomunikasilah dia dengan petugas kantor yang merupakan pribumi. Hampir 2,5 Tahun dia tinggal di Jepang, namun bahasa Jepangnya tetap saja dilevel basic.
“Dammit, I hate this condition!!” rutuk aze dalam hati.
ketidakmampuan berbahasa Jepang membuatnya harus bergantung pada orang lain, dan itu hal yang paling dibencinya. Satu -satunya hal yang mampu dia lakukan dalam kondisi benci bergantung pada orang lain adalah dengan mengandalkan Intuisinya. Difokuskan telinganya, dikuatkannta daya ingat atas kalimat kalimat yang sedang digunakan sipenutur, dilihatnya bahas tubuh sipenutur, maka mengertilah dia apa yang dimaksud sang penutur.
ya,begitulah sebenarnya cara aze bertahan di negara yang tak mampu dia pahami bahasanya secara utuh.

selepas urusan di Kantor camat, berangkatlah dia menuju kampus yang berlokasi 25KM dari tempat tinggalnya. Dengan satu tangan memegang payung, dan tangan yang lain memegang smartphone, dibacanyalah email yang masuk ke smartphonenya.
“Dear Eza san

Good morning, this is KOMAMA.
Today is the O scholarship’s deadline.

I will wait for you:)

Best regards,
KOMAMA”

“cih” celetuknya
“Gak di sana gak di sini, namaku tetap saja dibuat dengan tulisan yang tidak benar”

ada satuhal yang membangkitkan memori masa masa awal berada di Jepang. Sebelumnya Aze tidak mengetahui bahwa masyarakat di sini dalam bersurel menggunakan huruf kapital untuk menyebutkan nama keluarganya. Dulu dia sempat berpikir, bahwa nama yang ditulis dengan Huruf Kapital merupakan pertanda bahwa si pengirim marah atau ini merupakan nama organisasi.
Namun setelah berlarut – larut dalam dunia surel Jepang, akhirnya dia memahami bahwa huruf kapital bukan pertanda sang pengirim
marah dan bukan nama organisasi, melainkan nama keluarga si pengirim pesan.
-bersambung-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s