Mereka bilang aku kutukan

Namaku Sita, usiaku kini 15 tahun. Aku tinggal di kota kecil yang mempunyai satu swalayan besar.  Aku sangat suka nonton video musik orkestra. Penampilan konduktor yang sangat enerjik dikala memimpin berbagai macam instrumen musik, membuat ku suka menirukan gayanya. Selain menonton video, aku juga sangat suka sekali mengulik aplikasi dan game yang terdapat di smartphone.

Aku tidak mengerti mengapa orang-orang selalu marah padaku ketika aku mencoba untuk meminjam smartphone mereka. Padahal aku hanya ingin melihat aplikasi-aplikasi yang ada di smartphone mereka. Itu saja.

Tak jarang aku diteriaki, anak Idiot. Kutukan. Kutukan akibat masa lalu orang tuaku. Mereka berkata, ketika ayahku masih berusia 24 tahunan, dia sangat suka minum-minum dan juga merupakan playboy.  Ayahku  merupakan salah satu pegawai yang memiliki performa bagus dikantornya. Ibuku adalah perempuan yang cantik, dia adalah seorang perawat di rumah sakit swasta. Karena parasnya yang cantik, banyak laki-laki yang jatuh cinta padanya. Namun semuanya dia tolak. Bahkan pinangan dari pemuda terkaya di kampung, yang mencoba melamar melewati orang tuanya dia tolak. Sempat nenek marah marah pada ibu. Kenapa ibu tak jua ingin menikah padahal ada yang pemuda menghendakinya. Bila sudah begitu, ibuku hanya mampu berkata “tenang saja mama, jodoh sudah ada yang mengatur, aku belum ingin menikah karena aku merasa belum pantas untuk menikah. belum ada laki-laki yang membuat hatiku tergerak untuk menikah. Karena akupun kini jadi bingung, kenapa aku harus menikah? padahal kebahagiaan tidak diperoleh dari sekedar status”. Tidak tau bagaimana kelanjutannya, ibu dan ayah akhirnya bertemu dan menikah dikala ibu berusia 30 tahun dan ayah berusia 32 tahun.

Aku tidak mengerti, mengapa sampai hari ini aku tidak mempunyai teman. Saat ada orang yang ingin berbicara padaku, biasanya orang tuanya datang dan menarik tangan anaknya sambil berkata “jangan kau dekat-dekat dia, nanti kau tertular kutukanya”. Terkadang aku bingung, kenapa anak-anak yang bermain denganku selalu berakhir dengan perkelahian. anak yang bermain denganku selalu menangis sesudahnya. Padahal aku hanya ingin pinjam mainannnya yang menarik hatiku. Cuma sebentar saja…

Keluarga besarku sering menasihati orang tuaku untuk memasukkan ku ke rumah sakit jiwa, atau ke pesantren. Mereka bilang, aku juga perlu di rukiyah. Karena sifatku yang nakal diluar batas usia anak-anak seumurku. Kadang aku kasihan melihat ayah dan ibuku dimarahi oleh tante dan om ku. Tapi aku harus apa?

orangtuaku membawaku ke psikolog. Kemudian psikolog bilang, aku hanya kurang perhatian. Di karenakan ayah dan ibuku suka sibuk diluar. Hingga sikapku ini merupakan plampiasan untuk mendapatkan perhatian mereka. Mendengar itu, ibuku cukup sedih. Dirinya merasa gagal menjadi ibu sedangkan ayahku hanya mampu terdiam.

Dulu, Ibu guruku juga acapkali memukulku dikelas. aku dibilang tidak bisa diam. Selalu membuat ulah. Tak bisa fokus barang sebentar. Padahal aku hanya bosan. Duduk memperhatikan, selama berjam-jam menurutku itu membosankan. Bukankah manusia diciptakan untuk banyak bergerak. Struktur tulang kita diciptakan bukan sekedar untuk duduk atau tidur. Kita diciptakan untuk berjalan, berkeliling. Dimana salahnya aku sih? mau mereka apa? Akibat cara berpikirku ini, aku sudah 3 kali mengalami tinggal kelas. Cap anak bodoh dan nakal sudah makanan sehari-hariku.

Ya, pada akhirnya aku di drop out dari sekolahku. Aku juga sempat merasakan sekolah di pesantren selama 3 bulan. Orangtuaku berharap agar kelakuanku berubah. Tapi aku merasa tidak ada yang salah. Apa yang aku lakukan, menurutku itu wajar. Hingga akhirnya orang tuaku memutuskan untukku melaksanakan program home schooling. Tapi  lagi-lagi itu tidak berhasil. Guru yang mengajarku kehabisan kesabaran setiap mengajarku.. hingga dia memutuskan cabut.

Sebagai seorang perawat, pada akhirnya ibuku memutuskan untuk berkonsultasi ke neurologis yang merupakan kenalan dari teman-temannya dikala kuliah. Ide ini tercetus ketika tidak sengaja ketika melakukan kunjungan ke rumah sakit provinsi sebelah, dia melihat ada terapi yang bernama neurofeedback. Sebenarnya, selama ini, tentang kelakuanku, tidak pernah dia ceritakan ke teman-temannya. Dia berusaha menutupinya. Karena baginya, aku adalah malaikat kecilnya yang bertingkah sewajarnya anak-anak. Namun karena usiaku beranjak dewasa, dia mulai khawatir dengan ketidakmampuanku mengontrol diri dan tingkat pemahamanku yang rendah terhadap ilmu pengetahuan. Kekhawatirannya semakin tak terbendung.

Aku dibawa ke rumah sakit di provinsi itu. Kemudian kepalaku dijejali dengan lempeng logam yang terpaut dengan kabel. Mereka menyebutnya sebagai i-i-ji (EEG). Kata mereka, dengan  menggunakan instrumen itu, mereka bisa mendeteksi gelombang otakku. Awalnya aku pikir alat ini menyakitkan. Hingga aku meronta-ronta dan mencoba melepas lempeng logam itu dari kepalaku.. tapi lama-kelamaan aku menerimanya. Karena capek juga teriak-teriak. Lagian, ternyata tidak sakit.

Beberapa hari setelahnya, hasil pemeriksaan keluar. Aku didiagnosis mengidap ADHD (attention deficit/hyperactivity disorder) atau sering disebut Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktif (GPPH) yang dibarengi dengan keterbelakangan mental (Mental retardation). Mereka bilang, sumber penyakit ini berasal dari otak, yang pada akhirnya mempengaruhi tingkah laku ku.

Semenjak hasil diagnosis keluar, semenjak hari itu pula aku menjalani terapi Neurofeedback. Terapi ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan fungsi kerja otakku agar bekerja sebagaimana mestinya. Mereka bilang, otakku ini didominasi oleh gelombang theta, hingga mereka ingin mereduksi keaktifan dari gelombang theta dari otak ku ini..

Akankah terapi ini berlaku untukku? apakah mereka akan berhenti mengatakanku sebagai anak kutukan?

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s