Arti seorang pembimbing

Entah apa yang membuat saya pada akhirnya mengupload banyak post pada tanggal 22 Februari ini. Hanya saja yang ku tau bahwa hatiki tersentak.

Tertidur dua jam, setelah seharian melakukan aktifitas di kampus. Kali ini aku mendaftarkan diri untuk pendanaan grant confence, yang Insyaallah akan diadakan di Florida, Amerika serikat. Tahun ini, dia tidak ingin memanjakanku. Dia mengajarkanku untuk mencoba mencari pendanaan untuk keperluanku sendiri. Yap, selama masa kuliah master, seluruh biaya untuk menjalani konferens ditanggung penuh oleh kampus. Dan semua itu diurus olehnya. Sekarang dia perlahan-lahan mengajarkanku untuk mandiri.

Selama ini, aku tidak tau apa yang dia tulis tentangku dalam surat-surat rekomendasi yang dia berikan. Tapi entah kenapa, setelah terbangun dari tidur 2,5 jam. Hati ini tergerak untuk menerjemahkan isi surat rekomendasi yang dia buat…

apa yang terjadi? mukaku terasa di tampar-tampar. Bagaimana tidak, surat rekomendasi itu dia buat saat dia di negara Asean. Di saat dia sedang sangat sibuk dengan urusannya dalam mempromosikan dunia biomedical engineering ke negera negara berkembang di Asia. Ternyata sertelah menjadi seorang dekan , dia terus menjalankan tugasnya menjadi duta dunia dalam mempromokan ilmu biomedical engineering. Aku tak pernah menyangka, aplikasi yang aku tulis selama ini masih dia ingat. Seperti jumlah penyandang gangguan perkembangan mental dan lain lain.  Disurat itu dia bercerita bahwa saya adalah mahasiswinya  yang sangat bekerja keras. Selalu datang paling pagi dibandingkan yang lainnya. Semangat kerjanya juga tinggi.

malu… sangat malu…

Karena rasanya itu semua masa lalu…

Semenjak saya pindah… dan tinggal sendirian.. saya menjadi mahasiswi malas… Datang siang, dan kinerja jelek..

Mungkin ini salah satu cara halus Tuhan. menegur saya karena ketidakdisiplinan saya.

 

Saya masih ingat sekali, dalam pertanyaan saat wawancara di beasiswa yang sedang saya proses. “Ceritakan tentang pembimbingmu”

Saya tidak pernah berekspektasi mendapatkan pertanyaan itu……

Pada saat itu saya menjawab, dengan jujur dan dari hati yang terdalam. “Pembimbing saya, bagi saya seperti bapak saya. Dia memperlakukan saya seperti anaknya. Di Jepang, hanya dia yang saya punya.”

 

Pada negeri ini, aku berhutang budi. Diajarkannya aku kerja keras, usaha, dan hasil.

“Tanpa guruku, apa jadinya aku”-guruku tersayang, AFI junior

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s