Perempuan s3

langsung lanjut s3, gak baiknya pulang dulu? lalu menikah. Cewek berpendidikan tinggi, susah untuk mendapatkan laki laki-dia-

Perkenalkan, saya seorang perempuan. Berasal dari kota kecil di pulau sumatra, dan saat ini usia saya adalah 24 tahun.

Kutipan diatas adalah pernyataan yang paling sering dilontarkan oleh orang-orang yang mungkin saja menyayangi saya.

Dilihat dari sudut pandang A, alias sudut pandang mayoritas masyarakat Indonesia, mungkin pesan ini bertuliskan ke khawatiran. dipandang dari sudut pandang B, alias sudut pandang minoritas. pesan tersebut berisi keputus asaan dan ketidakpercayaan akan kuasa Tuhan. Bukankah berkali-kali dikatakan bahwa rezeki itu ada yang mengatur.

Lalu dimana titik equilibrium yang menyebabkan saya paham korelasi antara menikah dan pulang ke Indonesia. Apakah itu berarti mereka meyakini bahwa perempuan baiknya jangan kuliah tinggi-tinggi amat. Takut cowok nanti.

Tidakkah amat disayangkan bila pikiran kita dibelenggu dan dibatasi dengan adanya usia serta ketakutan memiliki ilmu yang terlalu tinggi.

 

bahkan seorang sahabat pernah keceplosan,

laki-laki itu ingin dihormati, bila perempuan sekolah terlalu tinggi, kami merasa tidak dihormati. -dia-

Korelasinya dimana? kenapa malah mendustakan perintah menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat? izinkan saya memahami korelasi antara pendidikan tinggi dan tidak hormat pada laki laki. Buat saya paham.

Terlalu mengikuti kehendak kata – kata dan pola pikir mayoritas orang Indonesia tidak akan habisnya.

Untuk para perempuan, yang ingin menikah tapi tak ada laki-laki yang datang melamar. Sedangkan dirimu tak ingin  merendahkan dirimu dengan aktivitas pacaran, yang seolah takut tidak laku maka biarkan saja hubungan diluar nikah.

Bersabarlah. Hidup bukan hanya perkara punya pasangan atau tidak, menikah atau tidak menikah.

 

Hidup adalah perkara, menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain.

Bukankah manusia terbaik adalah manusia yang bermanfaat untuk orang lain? bukan manusia yang menikah dengan siapa saja lalu berdusta seumur hidup.

 

Saya siap menerima risiko, bila pada akhirnya saya dikatakan sebagai perempuan lajang yang tak laku.

Saya, manusia yang percaya akan kuasa Tuhan. dan bila Dia berkata jadi, maka jadilah dia.

Sesuatu yang memang ditakdirkan untuk kita, seberbelit apapun keadaannya, akan menjadi milik kita. Namun sesuatu yang sudah ditakdirkan bukan untuk kita, semulus apapun tampaknya, tak akan menjadi milik kita.

seperti kata Gie, lebih baik diasingkan dari pada hidup dalam kemunafikan.

 

Fukuoka, Februari 2016

 

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s