ep [1] Para pejuang

“Living without privilege makes you stronger, keep moving through the pain,, keep moving forward. ” Michele Obama’s speech in her last  commencement address as first lady of United states.

From this, I will write in Indonesian…  This is a serial stories about my friends that has inspired my life..

Entah angin darimana yang datang merasuk di negeri nyiur melambai. Saya yang berada di negeri matahari terbit mendapatkan kabar bahwa kawan satu angkatan saya ketika kuliah, menjadi orang linglung. Dikabarkan bahwa dia seperti orang yang sering “lost” dari interaksi dunia nyata. Dikabarkan bahwa dia merasa dikejar-kejar oleh makhluk tak kasat mata. dan…. dia mengalami masalah pencernaan hebat yang membuat dia tak dapat menahan hasrat buang air besar.sepertinya diagnosis Schizophrenia.  Tak seperti kampus di Jepang, kelulusan dalam mendapatkan gelar sarjana di Indonesia tidak dapat dipastikan kapan waktunya. Di angkatan saya, hanya dua orang yang lulus sarjana dalam kurun waktu hampir 4 tahun. Dua dari salah satu mahasiswa tersebut adalah saya. Kurang dari sebulan hari wisuda, saya berangkat ke Jepang untuk menempuh masa Research Student. Hal inilah yang melatar belakangi ketidak updatean saya tentang rekan-rekan sepermainan saya.

Akhir tahun 2013, aplikasi seperti Line dan whatsapp tidak terlalu meriah, mungkin juga karena dirasa sesama teman masih akan sering bertemu di kampus.

Hingga tentu saja kabar tentang teman sepermainan itu mengejutkan saya. Merasa tidak bertanggung jawab sebagai teman sepermainan. Meninggalkan teman begitu saja membuat diri merasa bersalah… masih ingat ketika kami suka belajar kelompok, “dil, iko baa caronyo” dan berbagai macam celetukannya.

usut punya usut, ternyata penyakit yang dia alami pernah terjadi ketika dia SMA. Dia berasal dari keluarga kurang berada. Namun satu hal yang dia pegang teguh, dia ingin menjadi sarjana. Semasa kuliah, dia kerap melakukan kerja paruh waktu. ..

 

Beginilah informasi mengenai beliau yang tersebar :

Assalaamu’alaikum wr wb
Bapak dan Ibu dosen ysh, salah seorang mahasiswa kita, A (Teknik) saat ini kondisinya sangat memprihatinkan. Beliau
adalah mahasiswa reguler mandiri yang harus membayar uang kuliah dan uang
variabel sks sekaligus. Ayahnya bekerja serabutan tidak jelas.

Sejak awal kuliah, hanya dia harus menanggung biaya hidup sendiri karena
orang tuanya hanya sanggup membayar uang kuliahnya saja. Sedangkan untuk
biaya variabel dan hidup sehari hari dia harus bekerja. Akhirnya dia memang bekerja apa saja yang bisa menghasilkan uang untuk bisa bertahan hidup di kota padang ini sekaligus bisa tetap kuliah merajut cita cita menjadi sarjana yang sudah lama diimpikannya. Karena kuliah sambil bekerja pada sore dan malam hari, kondisi A ketika masuk kuliah tidak sesegar kawan kawannya. Penampilannya lusuh dan sulit berkonsentrasi. Meski tidak sampai mengganggu perkuliahan, tapi tampilannya cukup menyolok dibanding yang lain.
Sejak fakultas tahu kondisinya beberapa tahun yang lalu, dari pihak Fakultas rutin memberikan bantuan dana kepada beliau hampir setiap semester. Bantuan diambil dari dana donatur yang bapak dan ibu berperan didalamnya yang dari gaji yang dipotong setiap bulannya dengan besaran yang telah bapak dan ibu tuliskan dahulu.

Waktu terus berlalu, dan tanpa terasa saat ini A sudah memasuki semester yang ke 14 atau semester terakhir yang diperkenankan di Unand ini. Perkuliahan tatatp muka sudah selesai seluruhnya. Seminar proposal tugas akhir pun sudah dia jalani .Saat ini untuk menggapai gelar sarjana yang diimpikannya, A “tinggal” menjalani seminar hasil dan ujian sidang sarjana. Namun, tepatnya sejak November tahun lalu ada yang nampak lain pada diri A. Dia sering kali didapati termenung dan beberapa pembicaraannya tidak menyambung dengan lawan bicaranya. Ketika bertemu dengan saya lebih kurang satu bulan setengah yang lalu, beliau merasa di
kejar-kejar orang, berbicara tidak fokus dan nampak panik sekali. Saya mencoba menenangkan namun nampaknya beliau tidak terlalu tenang. Dari uang donatur beliau saya berikan uang untuk pembayaran kosnya yang menurut pengakuannya sudah beberapa bulan tidak di bawar. Nomun kondisinya tidak membaik. Di jurusan kawan kawannya sering mendapati beliau berbicara sendiri, tertawa dan bahkan menangis sendiri. Nampaknya beliau depresi berat dan agak terganggu kejiwaannya.

Terakhir beliau sulit mengontrol buang airnya sehingga sering buang air sembarangan tidak perduli ditempat apa. Kondisinya saat itupun demam.
Akhirnya dengan kesepakatan ketua himpunan kita bawa A ke rumah orang
tuanya ke bukittinggi. Mahasiswa berangkat bersama A pada Sabtu malam
tgl 6/2 dengan mobil rental yang dibiayai Fakultas. Saya sendiri dalam
keadaan kurang sehat waktu itu sehingga tidak bisa mendampingi.

Tadi pagi ( 9/2) ketua himpunan Elektro datang menghadap saya bersama
ayah A. Dari sana baru saya tahu bahwa A dulu memang pernah
mengalami depresi berat ketika SMA tapi tidak separah sekarang. Dan dia
selalu berkeras ingin menjadi sarjana. Ini cita citanya sejak dulu.
Akhirnya melihat kondisi yang seperti ini, kita usahakan agar A ini
bisa BSS semester ini supaya bisa terselamatkan dari DO agustus
mendatang. Langkah ini dengan asumsi bahwa A bisa beristirahat dan
berobat 1 semester untuk kemudian bisa maju seminar hasil dan sidang pada
semester berikutnya. Alhamdulillah WD 1 mengatakan BSS pada semester ini
masih bisa asalkan dengan alasan yang jelas. Saya pikir alasan A untuk
BSS ini sangat jelas.

Sebelum pamit, ketua himpunan Teknik  minta bertemu berdua saja dengan saya. Saat itu sambil menahan tangis dia mengatakan bahwa kondisi rumah A sangat memprihatinkan. Nyaris tidak ada peralatan di rumahnya kecuali onggokan kasur dan sebuah TV. Adiknya yang wanita divonis sakit jiwa( maaf : gila) dan tinggal di rumah itu bersama orang tuanya. Kakaknya ada yang kerja di bengkel dengan gaji seadanya. Akhirnya saya berinisiatif memberikan uang kepada ayah A untuk mengobati A agar bisa pulih kondisinya.

 

 

Alhamdulillah, beberapa hari yang lalu, di awal bulan ramadhan tahun 2016 ini, akhirnya A berhasil menyelesaikan kuliahnya. Akhirnya dia mendapatkan impiannya! dia jadi Sarjana! dan saya berdoa, semoga dia terus kuat dalam menghadapi hidup.

Terimakasih teman, atas usaha yang telah engkau lakukan.. salam pemimpi!

IMG_3763.JPG

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s