Cinta pada ayah negeri

Bila ku akhirnya pergi kelak,
jangan kalian buatkan monumen untukku,
Itu hanya buang uang negara saja
Bila memang cinta padaku,
Buatkan jalan pintas menuju sebrang
agar berkurang permasalahan kemacetan di negeri ini

-Sang Raja

Hal itu yang dikemukakan seorang temanku yang berasal dari negeri gajah putih itu.

Hal yang menarik menurut saya sebagai sesama pemegang darah asia. Kali ini saya belajar tentang arti cinta dari mereka, tetangga kita.

Semua ini bermula pada hari kamis malam.

Mendadak teman lab mengirimkan pesan kebatalan untuk melakukan eksperimen.

Sebuah pesan yang merusak mood saya hari itu.

Dikemukakannya bahwa rajanya telah tiada, dan dia sangat shock dan tidak bisa mengerjakan apa-apa.

Awamnya saya dengan yang namanya rasa cinta, membuat saya bertanya dalam hati “emang kenapa kalau meninggal?” ya saya belum pernah mencintai tokoh negara sedalam apa yang dikemukakan oleh teman lab saya. Apalagi ini berbuntut dengan tertundanya trial eksperimen saya.

Penasaran dengan apa yang terjadi, maka saya bertanya langsung pada teman dari negeri gajah putih yang kebetulan hendak membuang sampah.

saya : “sini… sini… Jadi apa yang terjadi”

dan mulailah dia bercerita tampak sambil menahan sesak di dada.

Ternyata sang raja, merupakan ayah bagi orang-orang negeri putih ini. Fotonya, simbolnya berada di mana saja di berbagai dinding negeri gajah putih. Ibarat, bangun tidur hingga tidur lagi, setiap hari wajah ini terlihat di depan mata, selama 50 tahun belakangan. Sehingga, kepergiannya bukan sekedar pergi, tapi harus merelakan hal yang biasanya ada menjadi tidak ada. Ya, kepergiannya bukan masalah yang sederhana.. gambar mata uang harus diganti, foto-foto harus diganti, banyak hal yang harus di ganti. Hingga bahkan tokoh-tokoh anti kerajaan pun dapat merasakan kesedihan kehilangan hal yang sudah menjadi kebiasaan ini.

Teringat saya pada pepatah jawa : “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino” Cinta tumbuh karena terbiasa. Dan itulah yang terjadi pada teman-teman saya di sana.

tapi,, tapi jangan salah.

bukan kebiasaan dalam hidup dipenuhi kuasa narsis dalam bentuk diktator, namun kebiasaan dalam mendapatkan kasih dari sang Raja.

Terbiasa.. terbiasa punya raja yang inovatif..

terbiasa punya raja yang mementingkan keperluan masyarakatnya, meski harus mengeluarkan uang dari kantong sendiri..

terbiasa untuk berpikir bagaimana cara menanggulangi masalah yang ada di negeri,,

 

Teringat betapa kagetnya saya, bahwa negeri gajah putih jauh maju beberapa langkah dalam dunia penelitian, terutama Brain Computer Interface.

Melihat rakyatnya yang tertib antri saat akan menggunakan fasilitas publik,

serta betapa luar biasanya Museum dan cara mereka menghargai warisan leluhur.

Pergantian raja baru, menimbulkan segudang tanya.. akan kah dia bisa.. akankah dia mampu… akankah dan akankah….

Hingga membuat saya berpikir… pernahkah saya mengalami kehilangan begitu dalam atau pernahkah Indonesia merasakan kedukaan yang begitu mendalam, atas kehilangan sang pimpinan negara??

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s