Ngerumpi tentang Pers dan Kebebasan di Negeri Nyiur Melambai

Menghangatnya temperatur bumi dibagian utara ini menandakan bahwa bulan Februari telah datang. Dalam dunia Pers, Februari merupakan bulan penting yang ditandai dengan perayaan Hari Pers Nasional pada tanggal 9 Februari. Hari pers disuarakan pertama kali pada saat kongres ke 16 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Padang. Pada tahun 1978. Namun peresmiannya baru dilakukan setelah selang tujuh tahun kemudian  melalui Surat Keputusan Presiden No. 5/1985, maka hari lahir PWI itu resmi menjadi Hari Pers Nasional (HPN). Pada tahun 2017, Hari pers Nasional dilaksanakan di Maluku pada tanggal 1-9 Februari.  

Makna Pers dan Kebebasan

Pengertian pers dalam undang-undang no 40  tahun 1999 adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan meyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik dan segala jenis saluran yang tersedia.

Jadi bila disederhanakan menurut pendapat penulis, pers adalah LEMBAGA   dalam menyalurkan informasi dan aspirasi. Lalu menjalar kepemaknaan kebebasan, kebebasan menurut pendapat penulis dapat diartikan sebagai pemegang kendali dari diri sendiri. Bila ditanyakan, apa sebenarnya makna kebebasan dalam pers, ikuti saja jargon pers yaitu : “Biarkanlah pers mengatur dirinya sendiri sedemikian rupa, sehingga tidak ada lagi campur tangan birokrasi.” ya, mengatur diri sendiri.

Sekilas Sejarah kebebasan Pers di Indonesia

Sejarah pers di Indonesia secara garis besar terbagi menjadi dua, yaitu masa sebelum kemerdekaan dan masa setelah kemerdekaan.

Masa sebelum kemerdekaan

Pada masa sebelum kemerdekaan pun perjalanan pers di Indonesia kembali dapat dibagi menjadi dua, yaitu masa kolonial belanda dan masa pendudukan Jepang. Hal yang perlu di catat dalam dua periode ini, pada tahun 1744  terbitlah surat kabar pertama dengan judul Bataviasche Nouvelles, dan di masa pendudukan Jepang, tercatat bahwa teknologi dalam dunia media di Indonesia berkembang dengan canggih namun sayang proses melahirkan berita diawasi dengan sangat ketat.

Masa setelah kemerdekaan

Sedangkan setelah kemerdekaan perjalanan pers di Indonesia dapat dibagi ke dalam empat periode. Periode pertama diawali pada masa demokrasi parlementer (1949-1959). Di periode ini pers Indonesia terbagi menjadi dua kubu, yaitu kubu pendukung kabinet dan kubu oposisi.

Lalu dilanjutkan ke masa demokrasi terpimpin. Pada masa ini ruang gerak pers menjadi sempit karena pemberitaan benar-benar di kontrol oleh kementrian penerangan dan badan-badannya. Lanjut di masa demokrasi Pancasila dan orde baru, di masa ini sempat terjadi romantisme alias hubungan yang sangat akur antara pemerintah dan pers. Namun hal ini hanya berlangsung selama 8 tahun karena pada tahun 1974 terjadilah peristiwa Malari. Apa itu peristiwa malari? Peristiwa ini adalah  terjadinya demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan sosial yang terjadi pada 15 Januari 1974. Mahasiswa selalu menulis sejarah dalam perkembangan negara tercinta, Indonesia. Kesamaan dari 3 periode ini adalah adanya ancaman pencabutan izin terbit.

Hingga pada pasca reformasi, sejarah Pers ditoreh dengan terbitnya undang-undang no 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi manusia dan dibarengi dengan undang- undang no 40 tahun 199 tentang pers. Setelah pasca reformasi, tidak ada lagi istilah bahwa pers memerlukan surat ijin dalam penerbitan beritanya.

Namun, pada tahun 2010 muncullah ide untuk memverifikasi perusahaan pers dan hal ini ditandai dengan terbitnya piagam Palembang yang tujuannya adalah untuk membangun komitmen dalam memenuhi standar perusahaan pers yang ditetapkan oleh dewan pers. Saat itu ada 17 perusahaan yang menandatangani piagam tersebut.  

Tren verifikasi perusahaan pers semakin memanas di awal tahun 2017 ini. Hingga artikel ini terbit, dikabarkan telah ada 74 perusaahan pers yang lolos verifikasi oleh dewan pers. Apa sih baiknya diadakan verifikasi perusaan pers ini? Sekurang-kurangnya adalah untuk melawan media yang suka menyebarkan berita omong kosong alias Hoax. Kedepannya hanya perusahaan pers yang terverifikasi yang akan mendapatkan perlindungan dari dewan pers jika terjadi sengketa terkait dengan perusahaan pers.

Lalu bagaimana dengan perusahaan pers yang belum terverifikasi? Ketua dewan Pers saat ini, yaitu Yosep Adi Prasetyo menyarankan untuk langkah awal adalah segera menjadikan perusahaan tersebut berbadan hukum. Lalu bagaimana bila tetap tidak menjadikan perusahaan tersebut berbadan hukum, ya menurut yang penulis tangkap, tidak ada sanksi pencabutan izin perusahaan tentu saja, namun hal ini dapat menjadi acuan untuk para penikmat berita dalam memilih untuk mempercayai berita terbitan perusaahaan-perusaaahan tersebut. Pilihan ada ditanganmu. Karena akan menjadi pertanyaan lanjutan, bagaimana dengan pers yang terdapat di organisasi kemahasiswaan? Apa yang akan terjadi kedepannya? Mari kita tunggu kelanjutan mengenai hal ini.

World press freedom day

Hari pers Nasional, diperingati setiap tanggal 9 Februari. Lalu ada kah hari pers Internasional? Tentu saja ada. Tepatnya merupakan hari perayaan kebebasan Pers atau dikenal sebagai World Press Freedom Day. Peringatan hari tersebut dilaksanakan setiap tanggal 3 Mei.  Kali ini, di tahun 2017, world press freedom day dilaksanakan di Ambon, Indonesia!

Peringkat Indonesia dalam Kebebasan Pers

Berdasarkan world press freedom index, Indonesia berada di peringkat 130 dari 180 Negara. Sebelumnya Indonesia berada di peringkat 138. Hal ini menandakan bahwa tahun 2016 Indonesia mengalami peningkatan dari segi kebebasan pers. Namun menjadi menarik pula, karena ternyata dalam 10 tahun terakhir tercatat kekerasan terhadap pers pada tahun 2016 menduduki peringkat tertinggi. Bagaimana dengan keadaaan pers di negara lain? Sebagai pelajar yang sedang berada di Jepang, posisi Indonesia dalam kebebasan pers masih dibelakang apabila dibandingkan dengan negara matahari terbit. Kebebasan Pers di Jepang berada di peringkat 72 pada tahun 2016 ini. Kenapa Indonesia hanya berada di posisi 50 terbawah? Salah satu alasannya adalah karena wartawan asing tidak memiliki akses dalam meliput kejadian yang berlangsung di Papua Barat. Ya, permasalahan mengenai Papua Barat ini masih terus berlanjut. Namun PPI dunia baru-baru ini mengadakan ajang pencarian ide untuk seluruh pelajar Indonesia yang ingin memberikan gagasannya tentang Papua barat. Untuk informasi lebih lanjut silahkan mengkases website PPI Dunia.  Lalu siapakah yang menduduki puncak peringkat kebebasan pers? Finlandia berada di posisi puncak dalam kebebesan pers di 5 tahun terakhir ini. Negara dingin ini selalu mencetak prestasi tidak hanya dalam kebebasan, tapi juga pendidikan. Keren ya!

Harapan Pers agar lebih baik lagi.

Ngerumpi tentang pers dan kebebasan di Negeri nyiur melambai, sebagai seorang pelajar, hal apa yang bisa dilakukan agar pers Indonesia menjadi lebih baik? Yang pertama sebagai seorang pemuda, kita harus cermat dalam menyebarkan berita, karena generasi muda harusnya memiliki karakter “ingin tahu” yang lebih dalam” agar adik-adik kita tidak ikut-ikutan terjebak atas berita kosong yang kita tebarkan. Lalu sebagai Scientist, kita perlu membantu mengklarifikasi berita yang salah dalam  bentuk pernyataan sikap atau membuat tulisan bandingan. Saran penulis, sebagai seorang pelajar untuk para perusahaan pers. Mari kita lebih memerhatikan dan menaati kode etik jurnalistik dan mengedepankan isi berita dan ketepatan berita dibandingkan kecepatan dalam pengangkatan berita.

Referensi :

Dewan Pers. Piagam Palembang. http://dewanpers.or.id/piagampalembang

Word press freedom index. https://rsf.org/en/ranking#

http://www.bpn.go.id/Publikasi/Peraturan-Perundangan/Keputusan-Presiden

https://www.komisiinformasi.go.id/regulasi/download/id/140

http://www.mediabhayangkara.co.id/2017/02/verifikasi-perusahaan-pers-ini-tujuan-dewan-pers/

http://www.unesco.org/new/en/unesco/events/prizes-and-celebrations/celebrations/international-days/world-press-freedom-day/about-world-press-freedom-day/

Penulis :

Fadilla Zennifa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s