Menyusuri kota Nagasaki

Sungai Tanang memang nyaman, namun carilah, bangunlah sungai tanang-sungai tanang lainnya – Pak ek Damanhuri

Setelah mendapatkan izin untuk libur dulu dari lab dari guru saya, akhirnya saya memutuskan untuk khilaf membeli tiket JR north kyushu Pass.

JR North Kyushu Pass (khusus untuk pelajar asing di Jepang)

JR north Kyushu Pass adalah suatu tiket ajaib yang bisa mengantarkan para pemiliknya berkeliling Kyushu Utara selama 3 hari sepuasnya. Seperti JR Pass pada umumnya, target pembeli kartu ini adalah turis asing. Berhubung saya bukan turis, jadi bagaimana ceritanya saya dapat membeli tiket ini?

Nah ini dia salah satu keuntungan jadi mahasiswa asing di Jepang. Mahasiswa asing mendapat fasilitas atau hak untuk membeli tiket ajaib ini. Buat pembaca yang penasaran dengan tiket ajaib ini, silahkan akses link ini: JR Kyushu

unnamed
JR Pass dan kategorinya

Berhubung quota hari pertama saya gunakan untuk melakukan petualangan bersama rekan-rekan ke Kumamoto, artikel bisa di simak di link berikut ini : http://ppij-kumamoto.org/2017/03/08/kunjungan-dari-bidang-kominfo-ppij-pusat-di-kumamoto-ada-apa-nih/ dan sisa ceritanya ditugaskan kepada da Fadil. (cemungut qaqa)

Dengan quota dua hari yang tersisa, maka perjalanan selanjutnya yang saya targetkan adalah Nagasaki. Seperti perjalanan saya pada umumnya,  petualangan saya ke  Nagasaki dilakukan sendiri, bahasa kerennya : Solo Travelling.

Nagasaki, Ikou!

Yup, berhubung pulau kyushu tidak sebesar pulau Sumatra, serta moda transportasi yang sangat apik, perjalanan ratusan kilometer dapat ditempuh dalam waktu beberapa jam saja. Kali ini hal yang menarik adalah suara dari speaker stasiun menggaungkan “arashii yuki” berkali-kali. Ntahlah maksudnya adalah badai salju atau apa. Sangat benar bila temperatur udara kembali turun. Tapi apa ini karena badai, atau karena goblin sedang sedih (?) entahlah. Petualangan dilla_theexplorer terus berlanjut. Nagasaki ikou!!! 

Jalur yang harus ditempuh dari Hakata Station (Fukuoka) ke Nagasaki

Perjalanan dari Hakata station (Fukuoka) menuju ke Nagasaki station dapat ditempuh dengan menggunakan Limited Express. Menggunakan Limited express adalah hal yang sangat jarang saya lakukan. Dan ini adalah kali pertama saya menyengajakan diri untuk menggunakan kereta JR Limited Express ini. Duduk di bangkunya membuat saya merasa insecure. Karena design interior dalam kereta ini super duper kece sekali. Saya antara percaya dan dipercaya-percayain bahwa tiket yang saya pegang ini nge-cover kereta jenis ini. Menurut saya design interiornya (saelah bahasa eke) jauh lebih kece dari isi dalemnya shinkansen. Saya sampai celingak -celinguk berkali-kali untuk meyakinkan diri bahwa bangku yang saya duduki memang dikhususkan untuk para penumpang non reserve ticket. Iya, saya belum kuat hati untuk di usir dari gerbong dan gagal melakukan petualangan demi mencari inspirasi artikel dan tabungan video untuk projek sejarah PPI Jepang (as always, selalu sambil menyelam minum air, azek-azek).

DSC_0707.JPG
Di dalam JR Limited Express

Untunglah saat om pemeriksa karcis, saya dinyatakan berhak untuk tetap berada di dalam kereta tersebut. Yatta…

Singkat cerita, akhirnya saya sampai juga di Nagasaki, uu yeaa!

Nah masalahnya, cuaca yang dingin membuat otak saya beku untuk melanjutkan perjalanan. Maka saya putuskan untuk masuk ke dalam mall di depan Nagasaki Station ini. Untunglah saat lagi clingak-clinguk hal-hal yang dijual di mall ini, ada toko teh yang memberikan teh hijau gratis. Seketika badan saya menjadi hangat dan otak saya kembali bekerja. Siraman teh tersebut ke kerongkongan saya memberikan saya energi untuk keluar mall. Tepat di depan station tampaklah kendaraan yang melintasi jalan raya. Sebutan dari kendaraan ini adalah “street car” menurut saya ini adalah nama lain dari trem.

Untuk lebih jelasnya, foto di bawah ini menampakkan Jalur dari sistem transportasi di dekat stasiun Nagasaki.

DSC_0711
Di depan Stasiun Nagasaki (diambil dari jembatan penyebrangan)

Karena kota Nagasaki terkenal dengan kisah “bom atom”, maka saya memutuskan untuk pergi ke Peace Park. Namun berhubung untuk menuju lokasi, saya harus menggunakan trem maka saya mencermati betul jalur yang harus saya pakai. Karena trem tidak termasuk dalam tiket yang di cover oleh JR North Kyushu pass. Berapa sih harga tiket trem? Harga tiketnya adalah 120 yen ke mana saja (Flat Rate).

Tibalah akhirnya trem di stasiun terakhir, tapi bukan dilla_theexplorer namanya kalau ga pake nyasar. yes. Saya nyasar, karena salah naik trem. Trem yang saya naiki menuju ke arah yang berlawanan dari lokasi yang saya incar. Hingga akhirnya saya ingin mencoba bertanya dengan om supir trem, tapi.. tapi tapi.. si gaijin ini mendadak kelu untuk ngomong bahasa Jepang sederhana. Baru sepatah kata yang saya ucapkan kepada om supir, wajahnya sudah seperti orang kaget. “hah” begitu suara yang terucap dari mulutnya. Ah sudahlah, saya lanjut turun dari trem tersebut. Boro-boro langsung naik ke trem untuk menuju ke lokasi target, kaki saya bandel dan mulailah saya melihat-lihat hal-hal yang berada di sekitar. Padahal saat itu Hujan dan cuaca dingin. Ya tapi for the sake of “penasaran”, ga masalah.

Yap, ternyata pemberhentian terakhir dari trem yang telah saya naiki itu mengarah ke situs kediaman Takasima Shuhan. Siapa itu? Nah nyontek dari wikipedia dan informasi yang teradapat di situs tersebut, Takashima Shuhan adalah  seorang samurai. Kaki saya hanya mampu mengantarkan sampai gerbang perumahan itu saja, karena jantung dan otak saya berkata lebih baik saya pergi ke tempat lain, karena keadaan saat itu gerimis dan Peace park terus memanggil-manggil saya melalui kontak batin (elaah, ala ala cenayang).

Berhubung 120 yen telah terbuang, maka saya menimbang-nimbang untuk jalan kaki ke Peace park atau naik trem lagi. Namun kaki saya mengajak saya untuk menyusuri area di sekitaran tempat yang sedang saya pijaki ini, dan voila! sampailah saya di Shianbashi. Berhubung perut saya sangat lapar dan saya kedinginan, Shianbashi menjadi target saya untuk berburu makanan Halal.

DSC_0721.JPG
Shianbashi, Nakatsu Kawabatanya Nagasaki (?)

Mau dikatakan apalagi kita tak akan pernah satuuuuuuu (lah malah nyanyi). Iya! mau dikatakan apalagi! saya tidak menemukan restoran berlabel Halal, lalu saya coba untuk mengganti threshold dengan key word “seafood”. Tapi yang saya temukan adalah Kaldi! Kaldi adalah toko yang menjual berbagai macam produk import dari negara lain dan hal yang menyenangkan adalah mereka selalu menawarkan kopi gratis. Lalu berdirilah saya diantrian orang-orang yang menunggu untuk mendapatkan kopi gratis. Sambil melihat-lihat produk yang di jual di Kaldi Shianbashi tersebut, saya mencari-cari Indomi. Kenapa? itu yang menjadi patokan saya untuk mengetahui apakah produk Kaldi di Jepang menjual barang import yang sama atau hanya berdasarkan kebutuhan warga sekitarnya saja. Bila di Fukuoka kita dapat menemukan Indomie, Humm sayang sekali, hingga kopi saya habis, saya tidak menemukan Indomie. Tapi, karena badan saya menjadi hangat, otak saya kembali bekerja! Saya harus menuju ke peace park, karena waktu sudah menunjukkan jam setengah 5 lewat.

Berhubung saya keluar dari pintu yang berbeda saat saya masuk, saya menemukan pemandangan lain dari kota Nagasaki. Cukup membuat saya bernostalgia dengan Milan nya Italia. Ya, yang namanya liat trem, tentu saja yang keingat adalah EROPA. Akhirnya saya memutuskan kembali memasuki “pasar” sebelumnya, karena jalur trem menuju Peace park tampaknya tak melalui area tempat saya keluar ini.

Sampailah saya ke lokasi target, a.k.a Peace Park. Apa sih peace park sebenarnya? Peace park adalah taman yang bertujuan untuk menjadi tempat kenangan dalam mengenang tragedi bom atom 9 Agustus 1945. Ya, bagi orang Indonesia, tragedi bom atom ini juga merupakan peristiwa yang amat sangat penting.

Bila situs bom di Hiroshima ditandai dengan adanya dome yang terlihat di gambar dibawah ini menampakkan sisa bangunan yang masih berdiri setelah ledakan bom atom, berbeda halnya dengan situs bom atom di Nagasaki.

Di Peace Park Nagasaki yang terlihat adalah patung-patung yang berasal dari berbagai negara.

IMG_20170309_092838_463
Patung  “peace statue” di Nagasaki

Berdasarkan wikipedia, : “Established in 1955, and near to the hypocenter of the explosion, remnants of a concrete wall of Urakami Cathedral can still be seen. Urakami Cathedral was the grandest church in east Asia at the time. At the park’s north end is the 10-meter-tall Peace Statue created by sculptor Seibo Kitamura of Nagasaki Prefecture. The statue’s right hand points to the threat of nuclear weapons while the extended left hand symbolizes eternal peace. The mild face symbolizes divine grace and the gently closed eyes offer a prayer for the repose of the bomb victims’ souls. The folded right leg and extended left leg signify both meditation and the initiative to stand up and rescue the people of the world. The statue represents a mixture of western and eastern art, religion, and ideology.”

DSC_0746
Sisi lain dari taman “peace park”

Selain bom atom, hal lain yang membedakan kota Nagasaki dengan kota lainnya di Jepang adalah nuansa Kristen nya. Masih dari lokasi Peace park, kita dapat melihat Katederal St. Mary dari tempat ini. Bila Fukuoka ditulis dalam sejarah sebagai tempat masuknya ajaran Buddha “Zen” maka Nagasaki ditulis dalam sejarah sebagai tempat pusat Katolik di Jepang. Ya nampaknya berbagai macam agama yang masuk ke Jepang diawali dari pulau Kyushu. Gak heran sih, karena Kyushu merupakan pulau yang paling dekat dengan daratan asia.

IMG_20170308_234257_902.jpg
Bangunan berwarna merah itu merupakan Katederal St. Mary ( Immaculate Conception Cathederal) (Urakami Cathederal)

Berjarak 400 meter dari Peace Park, Immaculate Conception Cathedral ini sukses membangkitkan rasa penasaran saya untuk melihat lebih dekat.

DSC_0748
Dari radius beberapa meter

Saya hanya melihat katederal ini dari luar saja, karena perut saya semakin lapar. Ketika saya mengecek google map, tampaknya jarak antara lokasi saya berdiri tidak terlalu jauh dari Nagasaki stasiun. Akhirnya saya memutuskan untuk berjalan kaki dari lokasi tersebut dengan tujuan Nagasaki stasiun dengan misi sampingan, mencari tempat makan dan melihat-lihat kota. FYI kereta terakhir dari Nagasaki menuju Fukuoka adalah pukul 7:56 sedangkan saat itu waktu sudah menunjukkan pukul setengah 6 lewat.

Di tengah perjalanan, saya melihat situs lain akibat dari bom atom pada tahun 1945 tersebut. Di situs ini, tampak sisa dari torii (gerbang kuil) yang tetap berdiri walaupun hanya tinggal setengah bagian. Karena bagian yang lainnya hancur karena ledakan bom atom.

Melihat pemandangan tersebut, saya merasa tidak menyesal dengan keputusan saya untuk menyusuri jalanan Nagasaki dengan berjalan kaki. Karena bila saya memutuskan untuk menuju Nagasaki Station dengan menggunakan trem, tentu saja saya akan melewatkan situs bersejarah ini.

DSC_0755
Ferris wheels di tengah perumahan (?)

Kaki saya terus melangkah, namun badan semakin merasakan hawa dingin dari kota Nagasaki. Sampai pikiran macam-macam muncul, mungkinkah saya bisa pingsan mendadak karena Hypotermia. lalu alam bawah sadar saya menyadarkan bahwa drama di otak saya itu terlalu tinggi kadarnya.

screenshot_20170308-233306.png
yay!

Setelah menghemat 120 yen dengan tambahan suguhan kota Nagasaki, dan dengan kesimpulan bahwa saya tidak menemukan restoran yang bisa saya singgahi tibalah saya di Stasiun Nagasaki. Saya memutuskan untuk bertawaf, di dalam mall di depan Nagasaki station untuk mencari makanan karena rasa lapar yang sudah tak tertahankan.  Setelah 3 kali memutari area food court, akhirnya pilihan saya jatuh kepada KFC. Untunglah restoran cepat saji ini punya menu seafood. Kalau ga ada, mungkin saya hanya mampu mengisi perut dengan memakan kentang goreng.

Setelah bertanya kepada petugas kereta, apakah boleh saya makan di dalam kereta (berhubung waktu keberangkatan sudah dekat, saya memutuskan naik kereta pukul 6: 54 pm) dan ternyata boleh, maka duduklah saya dibangku kereta limited express dari Nagasaki ke Hakata (Fukuoka).

Sembari mendengarkan program siaran di radio PPI Jepang saya melihat-lihat keaadaan kota sekitar. Kereta yang keluar masuk lorong membuat saya khawatir saya tidak dapat mendengarkan siaran radio PPI Jepang. Karena program yang dibawakan sangat menarik, yaitu tentang kesehatan. Namun untunglah kekhawatiran saya tidak terbukti. Aplikasi anroid radio PPI Jepang yang ringan ini tetap dapat diakses walaupun saya dalam perjalanan.

Screenshot_20170309-101414.png
Aplikasi android radio PPI Jepang.

Di ujung  perjalanan menuju Hakata, saya mendapatkan pesan dari teman-teman PPI Kumamoto. Voilaa ternyata kunjungan saya dan rekan saya, Fadil diabadikan dalam bentuk tulisan. Huah terharu :’) .

Screenshot_20170308-204049.png
kabar dari teman-teman di Kumamoto

Hingga akhirnya tibalah saya kembali di Hakata sekitar pukul 9 malam.

Hal yang saya pelajari dari petualangan menyusuri kota Nagasaki kali ini?

Jepang merupakan negara kreatif yang mampu mengubah luka menjadi bahagia. Ah jadi ingat kutipan dari Salim A Fillah :

Lalu kau terima beban untuk mencintai semesta: Membagi senyum ketika kau terluka, Memberi minum ketika kau dahaga Menghibur jiwa-jiwa ketika kau berduka

Sampai Jumpa di petualangan selanjutnya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s