Perempuan lajang, jangan sekolah tinggi!

Masih dalam kehangatan bulan pendidikan nasional yang berpijak pada tanggal 2 mei 2017. Permasalahan mengenai perempuan dan pendidikan tetap saja menjadi cerita yang asik untuk ditelaah. Jauh sebelum masa Kartini hingga masa Dian sastro, masalah klasik ini akan selalu ada.

Tulisan ini sebenarnya bisa menjadi oleh-oleh buat perempuan lajang yang akan pulang ke Indonesia tapi takut ditakut –takutin oleh paradigma masyarakat tentang perempuan dan pendidikan.

Penulis sendiri pernah mengalami momen tersebut. Saat penulis pulang ke Indonesia, bertemu orang yang sudah lama tak bertemu, seorang ibu berkata

“apa kabar nak? Sudah lama tak bertemu kamu kemana saja?”

lalu penulis jawab “ saya kuliah bu”

“kuliah di mana? Di x ya?”

“bukan bu, saya kuliah di Jepang.”

“wah mantap, kuliah s2 ya?”

“bukan bu, saya kuliah s3”

“astaghfirullah nak! Apa yang kamu lakukan? Nggak ada yang mau menikah dengan kamu nanti!”

Well, itulah pengalaman seru yang dialami penulis ketika rehat sejenak ke Indonesia. Mungkin banyak perempuan yang berpikir, apa sebenarnya dosa yang dilakukan oleh perempuan yang menempuh pendidikan tingkat lanjut? Mengapa bukannya doa yang didapat tapi malah serapah yang keluar dari sesama perempuan, yang mengetahui perempuan lajang atau bahasa bekennya single menempuh pendidikan tinggi.

Kill your curiosity before it kills you-no name

Penulis jadi penasaran, dari mulut siapa akar perkataan “ Jangan sekolah tinggi-tinggi, nanti cowo ga ada yang berani deketin, nanti cowo minder” apakah benar kalau pernyataan ini dilontarkan oleh laki – laki?

Dari segi budaya di Indonesia, penulis sendiri terlahir di keluarga anomali, dimana bapak adalah seorang Master, dan ibu adalah seorang Doktor. Bapak sendiri berkata “ Selesaikan kuliahmu, jangan pikirkan yang lain!”

Bagaimanakah laki laki lainnya? Mari simak keisengan saya….

Penulis ketika penyakit penasarannya kambuh

Data Pendidikan di Indonesia

Berdasarkan website badan pusat statistik [2] saya mengambil data persentase penduduk berusia 10 tahun ke atas yang tidak/belum pernah sekolah berdasarkan provinsi baik di perkotaan dan pedesaan.  Ah, jadi ingat kenangan ketika KKN (Kuliah Kerja Nyata), ikutan bantuin untuk ambil data statistik masyarakat sekitar. Okay, adapun tabel yang penulis sebutkan tadi dapat dilihat di bawah ini :

Tabel 1. Persentase Penduduk 10 Tahun Ke Atas yang Tidak/Belum Pernah Sekolah menurut Provinsi, Daerah Tempat Tinggal, dan Jenis Kelamin, 2009-2015

Unduh file selengkapnya

Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa secara kesuluruhan presentase penduduk yang belum sekolah atau tidak pernah sekolah  di Indonesia semakin menurun (ucapkan alhamdulillah), walaupun tetap saja bila dibandingkan pendidikan perempuan dan laki-laki masih timpang. Presentase perempuan yang tidak/ belum pernah sekolah lebih tinggi dari pada laki-laki.

Gambar 1. Persentase Penduduk 10 Tahun Ke Atas yang Tidak/Belum Pernah Sekolah di Indonesia

Sedangkan berdasarkan status pendidikan, persentase penduduk berumur 15 tahun ke atas menurut daerah tempat tinggal, jenis kelamin, dan jenjang pendidikan tertinggi Yang Ditamatkan, di tahun 2015 :

Tabel 2. Persentase Penduduk Berumur 15 tahun Ke Atas menurut Daerah Tempat Tinggal, Jenis Kelamin, dan Jenjang Pendidikan tertinggi Yang Ditamatkan,
Gambar 2. Persentase Penduduk Berumur 15 tahun Ke Atas yang menamatkan perguruan tinggi 2011-2015

Unduh data selengkapnya 

Dari tabel dan grafik tersebut, terlihat bahwa di desa, saat ini kalangan perempuan lebih banyak yang menamatkan perguruan tinggi dibandingkan laki-laki di pedesaan. Kenapa bisa? ya mungkin saja perempuan di pedesaan sudah mulai berpikir bahwa kita juga bisa memajukan dunia dalam bidang pendidikan. Lantas apakah artinya perempuan diperkotaan tidak berpikir tentang pendidikan tinggi? Entahlah, saya belum ada ide untuk membahasnya.

Setuju nggak kalau perempuan single Indonesia tak perlu mendapatkan pendidikan tinggi? sama alasannya ” 

Pendapat Lelaki mengenai perempuan single menempuh pendidikan tinggi :

  1. Satria (karyawan, sarjana, 24 tahun)

Ga setuju, kecerdasan anak – anak nanti tergantung dari orang tuanya, terutama yang cewe. Alasan kenapa cowo takut, karena biasanya ketika cewe dapat pendidikan tinggi, beliau (cewe) akan mencari yang selevel dengannya baik dari segi pemikiran maupun pendidikan.

  1. Huda (mahasiswa master, 25 tahun)

I myself, I don’t care. Apa bener bikin cowo minder? Mungkin iya. Buat apa kuliah tinggi?

  1. Yogi (mahasiswa master, 25 tahun)

Ga sih, perempuan harus berpendidikan karena pendidikan anak dimulai dari ibunya, kalau cowonya takut itu karena minder aja.  Padahal kan perempuan biasa aja. Kalau aku sih ga masalah kalau cewek sekolah tinggi, malah seru kalau misal istrinya doktor, bisa diskusi.

  1. Habsyi (Mahasiswa S1, 23 tahun)

Takut apanya? Heran

  1. Rambutan (Mahasiswa S2, 26 tahun)

Nggak setuju. Karena menurut saya baik laki-laki maupun perempuan seharusnya punya hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan, pun ketika masih single. Menempuh pendidikan atau menikah adalah pilihan yang seharusnya dipilih secara sadar oleh si individu. Orang lain harus menghargai pilihan itu. Setiap pilihan selalu ada konsekuensi, itulah yang harus dicatat oleh si individu

  1. Fredric (Mahasiswa s2, 24 tahun)

Hmm… nggak setuju, menurutku kalau cowok itu takut ama cewek pendidikan tinggi, dia bakal mengejar pendidikan tinggi juga biar bisa bersaing dengan cewenya

  1. Imam (Mahasiswa S3, 26 tahun)

Cupu itu mah cowoknya. Kalau aku sih ga pernah mandang minder, aku bukan karena lebih tinggi pendidikannya tapi lebih diliat tujuannya.

  1. Naufal (Mahasiswa S2, 23 tahun)

Aku sih biasa aja, ga punya pendapat yang dominan mengenai itu. Nggak minder.

  1. Nugraha (Mahasiswa S2, 25 tahun)

Nggak ah.. saya mah mendukung seorang perempuan untuk mendapatkan pendidikan. Kalau term “cowo takut” dalam konteks jodoh, pasangan hidup, sebenarnya kan porsi seorang laki-laki sebagai seorang pemimpin. Ketika dia minder, sebenarnya dia sedang bermasalah dengan sikap kepemimpinannya dia. Dia berpikir hanya sanggup jadi pemimpin bagi seseorang yang dia anggap dia sanggup mendominasi terhadap dirinya. Masalahnya… yang seperti itu malah yang kebanyakan. Tapi saya bukan tipikal yang kebanyakan itu.

  1. Resna (Mahasiswa s2, 25 tahun)

Ga setuju. Semua orang tidak terbatas gender harus punya pilihan untuk melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya. Kalau cowoknya merasa insecure dengan pendidikan yang perempuan, itu berarti kurang baca buku, karena pasangan itu bukan disuruh-suruh tapi diajak diskusi dan debat masalah hidup.

  1. Galih (Mahasiswa S1, 21 tahun)

Nggak setuju sama sekali. Menurutku, perempuan justru harus mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Maksudnya, mempunyai hak yang sama dengan para pria single. Terus pemikiran perempuan single jangan ambil pendidikan tinggi adalah salah. Misal, ada cowok insinyur lulusan s1 yang takut ngedeketin cewek lulusan s2. Menurutku “derajat” diantara mereka bukan Cuma diukur dari pendidikan kan. Bertahun-tahun di lapangan itu sebenarnya juga pendidikan. Concisely, cara pikir para cowok-cowok yang berpikir bahwa perempuan single ga pantas dapat pendidikan lebih tinggi daripada cowoknya adalah super salah. Salah bila hanya mengukur dari pendidikan formal.

 

Selipan pendapat perempuan mengenai pendidikan tinggi

  1. (Tsukihime, PhD candidate, 29 Tahun) Yang ngomong kayak gitu SO STUPID!! Hanya cowok cemen yang ngomong kalo perempuan ga perlu meniatkan pendidikan tinggi. Dan sayang sekali, cowok cemen tidak pantas untuk cewek berpendidikan tinggi. Perempuan adalah cikal bakal pintar tidaknya anak2. Mau anak2nya dididik sama perempuan dengan pemikiran yang terbatas?? Lagipula bukankah perempuan berpendidikan tinggi itu sexy? Anak2 dan suami harusnyabangga punya ibu dan istr seorang doktor, apalagi profesor. Di Indonesia, gengsinya harusnya tinggi banget
  2. (Rina, Mahasiswa S2, 24 tahun) Aku ga setuju. Karena pendidikan pertama anak kan dari ibunya. Dan masa depan bangsa bergantung pada kualitas generasi mudanya. Jadi kalau seorang wanita berpendidikan tinggi, suatu hari saat dia jadi ibu, dia bakal mencerdaskan anaknya jadi generasi yg berkualitas demi memajukan bangsanya

 Dari semua pendapat, semua berpendapat bahwa pendidikan perempuan berperan dalam tumbuh kembang pendidikan anak. Lalu apa buktinya?

Apa buktinya pendidikan tinggi perempuan dan kemajuan negara?

Karena Hayati mulai lelah untuk menganalisis data sendiri, maka Hayati, eh penulis memutuskan untuk mengutip website-website yang semoga saja valid untuk dikutip.

Dikutip dari tulisan dengan judul The bottom ten countries for female education Indonesia berada diperingkat 48 berdasarkan rerata tahunan pendidikan bagi kaum perempuan malang di usia 17-22 tahun. Sedangkan bila ditinjau berdasarkan
presentasi perempuan malang yang berusia 7-16 tahun yang tidak pernah bersekolah Indonesia berada diperingkat 57. Iya sih, kalau ditilik, web ini merupakan web dengan domain gratis, tapi saya mendapatkan akses link ini dari referensi [3].

Lalu apa hubungannya kemiskinan dan pendidikan perempuan?

well, berdasarkan data dari global education monitoring report, pada tahun 2015 dengan jumlah penduduk 257,6 juta jiwa, pendapatan perkapita masyarakat Indonesia adalah 3.440 dolar atau setara dengan 45.824.240 rupiah.
Pendapatan perkapita itu apaan dil? yaelah nyontek aja ya dari kalimat di wikipedia, Pendapatan per kapita adalah besarnya pendapatan rata-rata penduduk di suatu negara. Pendapatan per kapita didapatkan dari hasil pembagian pendapatan nasional suatu negara dengan jumlah penduduk negara tersebut. Pendapatan per kapita juga merefleksikan PDB per kapita. jadi duit 45 jutaan setahun itu sama dengan 3.818.687 alias  3,8 jutaan rupiah perbulan. Sedangkan bila dibandingkan dengan Jepang, dengan jumlah penduduk 127 juta jiwa, pendapatan perkapita masyarakatnya adalah 36.680 dolar atau setara dengan 488.614.280, yoyoi sepuluh kali lipatnya pendapatan masyarakat di Indonesia.

Bagaimana pendidikan perempuan Jepang? Silahkan lihat gambar berikut ini :

Gambar 3. Learning achievement in science (upper secondary) di Jepang

Sedangkan di Indonesia bagaimana?

Gambar 4. Learning achievement in science (upper secondary) di Indonesia

Jadi gimana? setelah melihat cuplikan data tersebut? Silahkan simpulkan sendiri.

apa? bingung maksud dari learning achievement in science? oh itu artinya adalah persentase remaja di atas usia SMP yang ambil bagian dalam sains (ilmu pengetahuan).

Gambar 5. Learning achievement in science (upper secondary).

Bisa dilihatkan posisi Indonesia dimana? masih bangga dengan mindset “Perempuan Lajang ga usahlah sekolah tinggi-tinggi, nanti laki-laki takut?”

Jadi begini singkatnya, pepatah arab menuntut ilmu dari buaian hingga ke liang lahat. Tak ada redaksi gender didalamnya. Kembalikan pada niat, kenapa sekolah? “ilmu itu dikejar, bukan ditunggu. Karena ilmu tidak punya gender”

Allah saja meninggikan derajat orang yang berilmu, kok bisa-bisanya kita coba-coba merendahkan  martabat perempuan dengan pernyataan yang mengkonotasikan takkan laku perempuan yang berpendidikan tinggi. Ini buat yang Islam, yang katanya Indonesia penduduknya mayoritas islam :

    • Qs Al Mujadalah ayat 11:

    يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرُُ

    Artinya :

    Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmupengetahuan beberapa derajat (Q.s. al-Mujadalah : 11)

Sumpah niat banget ya si penulis bikin tulisan? Tepatnya saya lebih suka mengkonfirmasi sesuatu daripada menduga-duga. Istilah bekennya “Tabayyun”

Hatur nuhun udah simak hasil kepoan saya, tentu saja masih banyak kurang ditulisan ini, karena saya bukanlah pakarnya. Hanya seorang perempuan yang punya rasa penasaran tingkat akut.

What makes us who we are? Let’s explore it!

Selamat libur golden week.

Oh iya, presentase penduduk miskin dapat dilihat melalui link berikut ini : link

OLEH :

Fadilla Zennifa

Referensi :

[1] https://unstats.un.org/unsd/gender/worldswomen.html

[2] https://www.bps.go.id/Subjek/view/id/40#subjekViewTab2

[3] http://en.unesco.org/gem-report/sites/gem-report/files/girls-factsheet-en.pdf

Advertisements

3 thoughts on “Perempuan lajang, jangan sekolah tinggi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s