Media Sosial dan Kita

Telekomunikasi adalah..

Berhubung waktu Strata-1 (S1) penulis adalah seorang mahasiswi Telekomunikasi, hal ini membuat penulis menjadi natsukashii dengan nama mata kuliah yang lucu-lucu, mulai dari  sistem telekomunikasi terestrial, sistem informasi dan pengkodean, serta pengindraan jarak jauh . Ya intinya sih kode-kodean ama anak telekomunikasi sedikit banyaknya masih bisa kita terjemahkan (azeek). Jadi telekomunikasi itu apa? Telekomunikasi artinya adalah teknik berkomunikasi dengan menggunakan “media”.  

Berbicara tentang media, generasi milenial saat ini menjadikan smartphone sebagai media terfavorit untuk urusan berkomunikasi. Tidak mengherankan sih, karena menurut penulis smartphone dapat melakukan banyak hal, tidak hanya untuk telponan atau pesan singkat melalui jaringan radio, tapi juga dapat digunakan untuk mencari lokasi keberadaan teman kita.  Tidak perlu masuk dunia sihir ala Harry Potter untuk tahu keberadaan teman kita.  Sebut saja aplikasi di IOS/android  “Find my friend” yang released perdana pada tahun 2011 , dapat melakukan hal tersebut.

Kedekatan kita dengan alat telekomunikasi

Media sosial

Masih berbicara tentang media, pernah kah terfikir, kapan kata ini mulai dipakai dalam kehidupan kita? Dari hasil memantau media sosial renyah bernama  Quora.com kata Media Sosial (Social Media) pertama kali digunakan oleh om Darrell Berry.  (Jadi ingat kucing penulis yang udah mati, namanya Berry :’)) . Om Darel menggunakan istilah ini pada tahun 1994. Hal itu dilatar belakangi saat beliau sedang mengembangkan media online yang bernama Matisse. 

Eitt tapi juga ada yang menyatakan istilah sosial media itu pertama kali digunakan oleh Tina Sharkey pada akhir tahun 1990an, hal ini dikarenakan adanya domain yang bernama socialmedia.com pada tahun tersebut. Tapi, sayangnya berdasarkan bukti yang tercatat, domain socialmedia.com itu baru terdaftar pada tahun 1999. (referensi [1].)

Ya siapapun pencetus istilah pertama  dari sosial media, mari kita samakan persepsi bahwa kata sosial media telah eksis pada tahun 1994.

Saat ini media sosial, menjadi salah satu bagian hidup dari seluruh generasi milenial. Bahkan bayi yang baru lahir saja, beberapa diantaranya sudah punya akun media sosial, sebut saja Instagram, twitter dan facebook.

Sebenarnya seperti apa kondisi dunia terhadap sosial media?

Urutan Media Sosial

Berhubung dilanda rasa penasaran, berbekal senjata referensi dari link yang terdapat di wikipedia maka penulis menampilkan grafik “most famous social network sites worldwide as of april 2017, ranked by number of active users (in milions).  Cukup membuat terbelalak, saat kemarin penulis mengaktifkan akun facebook penulis dan melihat pernyataan terimakasih dari facebook karena telah menjadi salah satu pengguna akun facebook diantara 2 miliar pengguna lainnya. Marketing yang luar biasa ya! Ada 7 miliar penduduk bumi dan 2 miliar diantaranya adalah pengguna Facebook. Yaudah, ciao kalau gitu penulis minggat dari Facebook. Takut terciduqh soalnya.

Sosial Media Populer di tahun 2017 berdasarkan akun yang masih aktif [2] (masih ada yang pake telegram cuy)
Tapi pada suatu ketika saya tertarik dengan suatu pertanyaan berikut ini :

Hayo.. pada tau quora.com ga?

Ya, ketika penulis kabur dari dunia facebook, penulis melanjutkan hobi  berburu informasi di website yang bernama quora.com dan benar sekali, pada saat ini belum banyak penggunanya yang berasal dari Indonesia. Mengenai pertanyaan tersebut, ada jawaban yang menarik dari 19 responden yang menjawab.

“try to be exist” hontou ni ?

Jawabannya dalam bahasa inggris, penulis tidak tau bagaimana cara mengartikan pendapat tersebut, penulis agak kurang tega-an.

By the way, dengan adanya media sosial, inovasi-inovasi dari setiap jaringan sosial media saat ini semakin gila-gilaan. Penulis tidak penah membayangkan bahwa pada akhirnya live stories yang awalnya dipopulerkan oleh Snapchat jadi ikut diaplikasikan di Facebook dan Whatsapp!! Dan sampai banyak yang bikin meme tentang hal ini. Bener-bener deh, dunia tidak hanya dihadapi dengan fenomena Big Data tapi juga fenomena Over Sharing.  (ga ada yang salah, toh penulis adalah pelaku aktif instagram live stories, titik dua D).

Dengan fenomena dunia yang dipenuhi dengan keinginan untuk saling berkomunikasi dan berbagi, maka tidak mengherankan pula pada setiap jaringan sosial media terdapat fitur “grup”.

Grup di Sosial Media

Fitur grup menjadi hal yang sering digunakan untuk “KATANYA” menjaga silaturahmi antara yang berkenalan. Ada yang menggunakan grup yang mempunyai fasilitas “ngobrol” alias “chatting” untuk berjualan, berbagi pengetahuan, berbagi tugas, hingga PedeKate dengan cengceman. cihuy.

Tapi masalahnya yang menjadi kendala adalah, apa jadinya bila suatu grup yang terdiri lebih  dari atau sama dengan 4 orang hanyalah menjadi hiasan bahwa perkumpulan atau grup tersebut “eksis” tapi pada kenyataannya tidak ada “komunikasi” didalamnya. Apa penyebabnya? Bagaimana menyikapinya?

Berdasarkan hal tersebut, penulis mencoba melakukan  survey dengan menggunakan beberapa sosial media, Instagram, Line, dan whatsapp dibantu dengan form “google form” dengan durasi 1,5 jam.

Survey cepat

Ya, berhubung survey yang penulis lakukan adalah survey cepat, maka di survey tersebut penulis hanya menanyakan “pernah dicuekin di grup? bagaimana sikapmu?”

Di instagram Live stories penulis mengemukakan pendapat

“Jadi mungkin dalam komunikasi, ada orang yang tidak pernah merasakan gempa atau banjir, namun hampir semua orang pernah merasakan trauma gimana rasanya dicuekin waktu ngechat di grup”

Survey cepat ala penulis

Dari hasil survey cepat tersebut, terdapat 40 responden  dengan rentang usia 18-30 tahun. Dan Jawaban dari para responden tersebut adalah sebagai berikut ini :

Beberapa jawaban. dari google form

ditanyakkk : Tergantung attachment sama personil grup Dil. Kalo emang pada deket, kadang aku ledek hehehe. Misalnya kayak di WA, kan bisa cek siapa aja yg udah read tuh. Nah w sebutin aja jumlah atau nama2 yg udah read. Tapi liat2 waktu juga siih, kadang bisa aja sibuknya semua barengan kan. Tapi kalo personilnya ga deket, biasa aku cuekin aja tapi besok2 males ngemeng lagi ehehe kecuali urgent ya

jefri.wahyudi“Bodo amat” :V paling ngespam smpe di respon wkwkwk

silasetiamaulanaputra Kalau sekali di acuhin ndak apap, dibawa selow, sekali kedua diacuhin mulai nye-pam grup 😅 sekali ketiga diacuhin stop tanya di grup , dn jadi silent reader 😂 dst.. gitu kalau ana kak.

prasetya_yogiAku pernah sekali dicuekin di group wa, habis itu foto profil group nya aku ganti foto cewe sama spam message terus baru pada protes tp aku biarin aja.

riozzHi Dilla dear. It depends on your bonding with the group members and the reasons why you joined the group. If you guys are close each other, the schmoozes would be kept in flow (led by some alpha slash dominant people, sometimes). If you feel that you ain’t so much into the same boat, you’d be better jumping to other yacht lol #justmy2yens

Asep : Pernah juga nyuekin. Terus dinasehatin luar biasa mengenai sikap proaktif

Haekal : Kalau dicuekin, karena saya orangnya cuek juga, jadi yaudah aja gitu. Kalo misalnya selama saya udah ngasih informasi, ya yang penting udah beres ngasih info

Karin : Tergantung lagi bahas apa sih, kalau penting banget pasti aku post lagi.. kalau engga ya biarin aja.

Vira : Awalnya bete, tapi yaudah kalau mereka lagi sibuk , gak sempet baca chat.. atau ketutup ama yang lain, atau cuma baca aja. Sering kali say kita digituin.

Abi : Biasa aja, kalau penting ya nanya lagi

Ai : Dulu pertama kali masuk ke grup chat ya kesel, sempat mikir, apa pada ga suka sama aku? sekarang mah nyuekin. Kalau dicuekin yaudah, berarti ada dua kemungkinan : mereka ga tertarik, mereka lupa bales.

Febby : Biasa aja, kalau misal butuh respon banget, langsung japri.

Imam : Pernah, kalau cuma dicuekin, biasa aja. no problem

Hiro : Pernah beberapa kali, kalau misal saya bertanya terus ga ada yang nanggapin ya sedih ya, tapi kalau cuma sekedar ngekomen, terus ga ditanggapin ya biasa aja,

Wahyu : Pernah, personal chat aja biar enak, kadang ga kebaca

Gilang : Waduh teh, kalau dicuekin di grup biasanya saya coba keep khusnuzon, mungkin pada kehabisan quota.

anon: Pernah, cuekin lagi

Tambahan dari Sahabat, dibantu up melalui akun twitternya

 

Tambahan Lainnya

Dari jawaban-jawaban tersebut dapat disimpulkan bahwa “dicuekin” dalam suatu grup, menimbulkan dapat negatif untuk kebanyaan orang. Kebanyakan pada akhirnya memutuskan untuk “membalas” respon dari suatu grup dengan ikut-ikutan untuk tidak merespon rekan-rekan yang lain. Atau acapkali mengikuti “life style” di grup tersebut, bila tidak ada yang balas suatu pertanyaan dari seseorang, yang lain ikutan acuh. (gitu aja terus sampe lebaran monyet). Efek ini dalam psikologi dinamakan sebagai Efek Bystander (Bystander Effect). 

Menurut pendapat penulis, bila fenomena efek Bystander ini dibiarkan terus ada, lama-kelamaan  fenomena yang dicetuskan pada tahun 1968 akan menjadi fenomena yang tidak asing lagi namanya. Jangan dong.

Penulis jadi ingat, sahabat penulis,  Reza berkata ” aku tau rasanya dicuekin seperti apa, maka kalau ada orang yang nanya di grup, biasanya aku akan berusaha untuk selalu membalas. Kalau aku tidak tau, maka jawaban yang aku berikan adalah “maaf aku tidak tau”

be like Reza…

Fenomena Sosial Media dalam Dunia Penelitian

Fenomena sosial media tentu saja tak luput dari perhatian para peneliti, setidaknya dilansir dari laman pubmed.com dengan kata kunci “psychology of social media”, terdapat 2168 judul penelitian dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Sedangkan bila menggunakan kata kunci “psychology of cyberspace” , terdapat 19 judul yang berkaitan dengan hal ini.

Screenshot 2017-07-02 at 3.19.52 PM

Dari judul-judul tersebut, suatu saat nanti, penulis ingin membahas kesamaan yang diangkat pada penelitian-penelitian tersebut. Yang artinya, artikel ini akan mempunyai sekuelnya.. Pembaca setuju untuk diangkat?

Screenshot 2017-07-02 at 3.21.35 PM

Intinya kalau dicuekin di grup,

Qamuh tidaq sendyryh. Semua terciduqh.

 

Oleh : Fadilla Zennifa

Disclaimer : Penulis bukan mahasiswa Psikologi. Hanya seorang mahasiswa yang tergabung dalam penelitian yang berhubungan dengan neurosains

Referensi :

[1] Jeff Bercovici . 2010. “Who Coined ‘Social Media’? Web Pioneers Compete for Credit”  https://www.forbes.com/sites/jeffbercovici/2010/12/09/who-coined-social-media-web-pioneers-compete-for-credit/#4ad38ef851d5 diakses 2 Juli 2017.

[2] Statista. 2017. “Most famous social network sites worldwide as of April 2017, ranked by number of active users (in millions).” https://www.statista.com/statistics/272014/global-social-networks-ranked-by-number-of-users/ diakses 2 Juli 2017

 

Advertisements

2 thoughts on “Media Sosial dan Kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s