Pikiran (musim gugur ke-5, part 2)

Tulisan sebelumnya : klik link ini

Persis 4 tahun yang lalu, saya datang ke kota ini sebagai pemuda dewasa tanggung (umur 22 tahun). Dalam bahasa psikologinya disebut sebagai early adult transition. Teman sepermainan saya yang berasal dari negeri nyiur melambai yang sama-sama sedang berjuang di negeri ini banyaknya adalah orang -orang dewasa  berusia 26 tahun -39 tahun). Pun yang berusia satu tahun di atas saya, pada akhirnya menjadi room mate saya

hi my “ex room mate” do you read this blog? 😀 Thank you for everything..

Hal klasik, bila kita dengar orang berkata, “Dewasa itu ga linear dengan umur”  (dan yang ngomong kebanyakan anak muda) gak salah sih, tapi semakin lama kita hidup di dunia, semakin banyak hal-hal yang kita lalui, semakin besar kesempatan kita untuk MEMILIH menjadi dewasa dalam bertindak. Makanya kan, secara gak sadar kita lebih memilih untuk mendengar nasihat orang yang lebih tua dari kita. Pada suatu kesempatan, seorang kakak berkata (dengan sedikit gubahan):

Aku bisa berkata seperti ini, karena aku pernah berada di usia mu. Pun aku pernah melaluinya. Namun kamu, kamu belum pernah dan ga akan pernah melampaui umurku. Maka bukannya aku yang jago membaca pikiran, tapi hidup yang membuat aku belajar untuk berpikir

Empat tahun setelahnya, saya tak pernah menyangka pada akhirnya akan berada di titik ini. Hal apa yang benar-benar berubah menurut saya setelah bertahun-tahun merantau? POLA PIKIR. Saya mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan berbagai macam “jenis orang”. Bukan hanya dari Indonesia, namun benar-benar dari berbagai negara. Menyadari bahwa cara pikir orang eropa yang saya kenal yang sangat seksi dan tak berbeda jauh dengan cara berpikir orang kita( saya). Teman saya dari Polandia misalnya, kita berdua suka berbincang tentang hal apapun mulai dari yang “bersih-bersih” sampai yang “jorok-jorok”. Kadang kami mengklaim bahwa kami adalah kembar, yang membedakan adalah dia blonde dan saya hitam keling. Pun juga memahami betapa unpredictible nya karakter orang Jepang serta  mulai memahami makna culas yang acap dilakukan oleh warga negara tertentu, ataupun  kenyataan tentang bercampurnya ideologi “keyakinan” dan “kebudayaan” dari berbagai macam agama di berbagai negara.

Gambar 1. Mie dari Negara Korea Selatan yang rasa pedasnya bikin sakit perut

Katak dalam tempurung -pepatah lama-

Benar-benar merupakan temuan kata yang jenius dan tampaknya akan abadi sepanjang masa. Menyesal lah buat orang-orang yang malas untuk membaca ataupun tak suka “mengeksplorasi”, padahal waktu yang dibagikan untuk bernafas sangat sedikit, lalu memilih untuk merasa jadi yang paling hebat.

Kemarin tepatnya, perut saya menjadi tergelitik kalau saya ga boleh mendeskripsikannya sebagai mual. Berselancar di Instagram  explorer, mendapatkan suatu “gambar” tentang negara yang acap bersedekah di akun instagram milik pengguna di negeri nyiur melambai. Padahal postingannya bagus, dari sisi positif membuat terpacu untuk ikutan bersedekah. Namun apa komentar para netijen negeri nyiur melambai? jawabnya adalah

percuma sedekah, duitnya untuk dewa.

percuma sedekah, duitnya buat beli peluru.

Sedekah buat apa, bukan buat ke Allah.

Pamer-pamer sedekah buat apa.

Dan kata-kata negatif lainnya.

Dude iya dude, lu yang paling bener.. yang lain salah aja udah.

Lu pernah mikir ga, kalau negara lu dikata-katain kaya gitu?

Keyakinan lu dikata-katain kaya gitu

Atau sahabat-sahabatlu diomongin sejelek itu.

 

mikir!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s