Pamit

Selamat, bila kalian akhirnya sampai di personal blog saya ini.

Pelan-pelan, saya mulai mundur dari semua social media. Kenapa?

Klasik, saya jenuh.

Kembali kebelakang, saya memulai mengenal dunia “maya” sejak saya SD (tepatnya saya tidak ingat, mgkin sekitar kelas 5 SD, atau 4 SD?  ga ingaaat), tidaklah sulit bagi saya untuk dapat akses ke dunia internet. Karena Ibu saya mendalami dunia informatika, email pertama saya dengan akun bolehmail pun beliau yang buat.

Saat itu masih sangat sedikit orang yang bersentuhan langsung dengan dunia maya. Jaman sekolah, internet saya gunakan sebagai sumber materi untuk di kelas yang ngadain debat, saya manfaatkan untuk download foto-foto artis korea atau Harry Potter.. Ketika orang ga tau banyak tentang dunia artis korea plus Harry Potter, saya udah masuk kategori maniak. Social media saya gunakan untuk menyalurkan hobby menulis dan baca-baca artikel. Gak heran, saya termasuk penyusup cilik di dunia multiply.com waktu itu tagline webblog saya itu adalah “Indonesia Kreatif”.

Saya saat itu cukup senang, karena apabila mesin pencari diketik dengan kata kunci nama saya, maka akan muncul banyak halaman tentang saya. Ya ga heran, karena semua social media saya punya. (Sampai saya lupa akun saya ada di mana saja).  Apa sih tujuan saya untuk punya sosial media saat itu (diluar webblog)?

Tampaknya untuk ajang eksistensi… Menunjukkan bahwa saya pernah ke sini, pernah ke sana, ketemu ini, ketemu itu, punya ini, punya itu.. Padahal semua itu gak ada faedahnya. Setidaknya buat saya.

 

Tentu saja saya tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Semua berubah ketika rekan satu beasiswa saya menyatakan cara  berpikirnya yang menarik “menjadi google proof” atau yang artinya menjadi sosok yang susah dicari di google.  Dia bilang ” buat apa sih itu semua”. Hal ini mengingatkan senpai dan sensei saya.. sosok ilmuan yang saya hormati. Mereka tidak punya sosial media. Bahkan senpai saya menyengajakan diri untuk tidak menggunakan smartphone. Gawainya hanyalah telpon lipat. Bukan karena dia ga ada duit pastinya, namun karena memang dia ga mau. Orang yang dapat menghubunginya adalah orang-orang yang emang beliau kasih akses untuk menghubungi. Itulah mungkin arti privasi.  Hingga dikemudian hari sosok-sosok tersebut membuat saya terinspirasi untuk mundur perlahan.

lagi pula bukannya lebih asik untuk menjadi manusia anti mainstream? dulu ketika orang ga banyak punya akses, saya ada dimana mana. nah sekarang saat semua orang bisa akses social media (sosmed) dan pamer sepuasnya, saatnya saya yang gak ada dimana-mana (setidaknya di sosmed yang sekedar berbekal photo dan caption).

menerapkan hukum negasi, lebih menantang. ketika orang suka, saya tidak suka. ketika orang pakai, saya tidak pakai..

Satu-satu akun sosial media saya yang hanya berbasis foto dan caption , saya lenyapkan. Mulai dari facebook, twitter,linkedin hingga Instagram. Why? ya karena saya belum merasakan kebermanfaatannya. Akhir-akhir ini malah saya semakin mual.  Melihat foto-foto selfie berseliweran di timeline instagram disertai pamerisasi dicover dengan kata-kata bijak. Apa coba untungnya orang lain liat foto selfie itu? belum lagi captionnya yang acap tidak selaras.. semisal.. foto muka jarak dekat. Dengan caption “trimakasih Tuhan, aku diterima di Harvard”.

Ya suka-suka yang punya akun sih..

Tapi apakah orang akan serta merta dapat terinspirasi dan tercerahkan dari secabik informasi yang setengah-setengah.

Kenapa sulit untuk mengakui bahwa itu sebagai wadah untuk eksistensi diri? ya berbeda hal kalau kamu bergerak dibidang social media merketer atau peneliti cyber psychology atau bergerak di bidang komunikasi dan informasi sebuah organisasi :p. Bidang-bidang yang saya sebut itu memang bekerja untuk memantau minat orang banyak agar tujuan mereka dalam mempromosikan sesuatu menjadi berhasil.. lah kalau kamu tidak bergerak dibidang itu, faedahnya apa? situ artis?

 

 

saya ingin dikenal dengan karya saya..

saya ingin dikenal sebagai peneliti atau penulis.

Yang menuangkan karya berkelas

bukan sekedar kata puitis

untuk menyelimuti kegalauan dari hati yang terkikis

saat ini semua orang punya akses untuk menunjukkan siapa dirinya dari sisi yang dia mau…

Pencintraan kata populernya…

padahal buat apa….

ga ada faedahnya..

ga ada yang peduli…

 

 

 

Musim gugur ke 5, awal dari segala mula.

 

Bila ingin berdiskusi, silahkan email ke zennifa[at]deeexplorers.com

Fukuoka, 7 November 2017

Fadilla Zennifa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s