Harga “se-unit” privasi

Tanpa sadar saya berteriak di kamar, meluapkan kekesalan saya. Lalu dinding saya digetok oleh tetangga sebelah kamar. Dan hal itu terjadi 3 kali berturut-turut dalam rentang waktu 15 menit. Kemudian saya berpikir, ” ini kenapa si tetangga lebay amat” kemudian saya menoleh ke Jam dinding… ternyata sudah jam 12 malam. Mis orientasi waktu yang sangat parah. Yap, ga ada lagi definisi waktu siang dan malam bagi seorang saya, adanya deadline dan bukan deadline. 

Melakukan kegiatan yang berulang-ulang

Tingginya perihal privasi di Jepang menyebabkan segalanya kalau bisa harus diminta ijin dulu. Ambil foto orang, harus ijin. Ambil foto riset, harus ijin.. apa – apa harus ijin. Makanya, waktu saya melakukan internship di perusahaan game tersebut, susah juga untuk mikirin ide, gimana supaya konten yang dibuat ga menghasilkan masalahnya. Mungkin karena itu kali ya, orang Jepang teh kreatifnya EDAN. Karena mereka harus memikirkan bagaimana cara berkreasi tanpa melanggar aturan-aturan rigid yang mereka buat sendiri.

Tapi kalau dipikir-pikir, ternyata mereka memang berpikir ke depan. Coba pikir deh, di era informasi ini apa yang paling mahal? Yang paling mahal adalah PRIVASI. Bukan artis saja yang bermasalah dengan perihal privasi. Siapapun- siapapun .. siapapun yang ga awas dalam menggunakan internet. Saat ini, akses mencari tau tentang orang lain sudah sangat gampang. Apalagi buat pengguna- pengguna baru di Internet. Mereka banyaknya ga sadar, bahwa informasi-informasi yang mereka upload di internet itu sangat mahal harganya. (mungkin karena itu kali ya muncul akun youtube, hati-hati di internet hahah) Informasi pribadi dapat dijadikan suatu penelitian yang menghasilkan banyak uang. Semestinya informasi berupa tanggal lahir, nomor telepon, alamat email pribadi, nama orang tua, alamat, jangan pernah di publish di facebook (semisal).  Karena data penting berupa tanggal lahir dan alamat rumah merupakan hal yang super duper dapat digunakan untuk kepentingan peretasan semisal.

(si Dilla ngomong apa sih?)

Masih masalah privasi dan gampangnya akses mendapatkan informasi, saya sadari saat ini kita mampu diawasi di manapun. Setiap orang bisa menjadi stalker atau Paparazi.  Setiap orang bisa saja dengan tega melakukan screenshoot screenshoot  percakapan pribadi mu ke orang lain. Lah tersebarnya video (bukan text sih, melainkan video) mesum dari universitas ternama itu misalnya, apa mungkin dilakukan oleh orang yang ga dikenal? kadang saya membayangkan, video itu bisa tersebar jangan-jangan karena si pelaku (korban ?) yang indehoy itu salah kirim pesan…. who knows.  tapi beneran deh.. mahal kan jadinya harga yang didapatkan.. Maka dari itu pula kini jurusan yang berbau security data semakin rame semakin rame dan semakin rame.. bahkan brain finger printing juga jadi salah satu solusi yang tercetus dalam masalah keamanan data.

 

Well pesan saya satu,

buat apa seluruh aktifitas lu lu sebarin di media sosial? Ketika lu beranjak dewasa, lu akan sadar, semua hal itu ga ada artinya.. yang ada lu rugi. Karena ngejual informasi lu (seenggaknya “behavior” dan peminatanlu) pada orang yang ga lu tau siapa..

 

udah mendingan mainan quora.com atau selasar.com

lu ngomong apa sih dil?

tau ah…

tips dari saya : kalau ada hal pribadi yang ingin disampaikan ke orang lain, jangan pernah menyampaikan hal tersebut via text.. jangan sayang.. jangan… dunia skrin syut tidak mengenal kata manusiawi. Camkan pesan kakak.

 

Fukuoka, 21 November 2017

Fadilla Zennifa

*penulis adalah pengguna aktif intenet sejak awal 2000an

tulisan ga jelas sebagai obat sebelum tidur.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s