iri dengan yang mati muda

Dalam langkahku menuju sekolah (SMA), tiba-tiba aku check kalender yang ada di telepon genggamku saat itu. Aku melihat tanggal-tanggal di kalender pada tahun 2060an (tepatnya aku lupa, karena ini kejadian lebih dari 8 tahun silam). Kemudian aku menangis, menyadari singkatnya arti hidup. Menyadari bahwa akan ada moment di mana nafasku tidak mengontaminasi bumi lagi.  

Kaki ku terus melangkah, tanganku mengusap air mata. Yang aku ingat seragam yang aku kenakan adalah seragam putih abu-abu. Hari apa tepatnya, ingatanku tak mampu memanggilnya kembali. Saat itu aku bergumam dalam hati:

Jejak apa yang harus ku tinggalkan dalam hidup

Ya, kurang lebih begitu cara fikirku. Dari dulu ingin meninggalkan jejak di atas bumi, karena meyakini bila tak ada jejak. Tak lebih dari 3 hari kematianku, orang-orang perlahan akan lupa bahwa aku pernah ada.

Sementara itu, semakin dewasa umurku, semakin aku bertanya-tanya tentang arti hidup ini. Ditambah lagi takdir mengantarkanku untuk mengenal sosok Soe Hok Gie, seorang aktivis mahasiswa angkatan 66′. Dalam catatan-catatannya, tampak dia acap bertanya pertanyaan-pertanyaan filosofis yang kerap aku tanyakan juga pada diri. Dalam catatannya dia menulis :

Tapi aku ingin mati disisimu, manisku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tau

Setiap manusia berhak mempertanyakan apa yang ingin mereka pertanyakan. Hak mu juga untuk berkata tentang dogma-dogma yang engkau percaya tanpa perlu merasa harus tau dari alam fikirmu, dari pencarian, dari eksplorasimu terhadap dirimu. Bukan salahmu untuk apatis dan pasif. Namun pula di dunia ini ada jenis-jenis seperti aku dan Gie. Mempertanyakan apa-apa yang kami fikir penting bagi kami untuk dipertanyakan.

Pernah ku tanyakan pada beberapa orang mengenai pertanyaan apa guna hidup ini?  Ada satu jawaban yang membuatku terkesan.  Tak serta merta dia menjawab pertanyaan filsofis tersebut, dia berkata. Kita hidup di dunia memang akan acap merasakan derita.

Dunia memanglah penderitaan, dunia adalah penjara bagi orang mukmin

Dewasa ini, kelonggaran terhadap perihal-perihal ketat yang dulunya aku terapkan dalam menjalani hidup semakin menjadi-jadi. Agama yang ku pegang memerintahkan kami untuk menjaga makanan. Tampaknya dalam proses eksplorasiku pada diri, membuatku semakin jadi dalam bereksperimen tentang hidup. Sebulan, di bulan November 2017, ku longgarkan semua batas hal-hal mengenai asupan tubuh,  dan di bulan inilah segala keajaiban yang selalu aku punya hilang. Musibah demi musibah datang mengajakku bermain tanpa tau diri bahwa aku lelah dipermainkan alam. Mungkin doaku selama ini yang dikatalis oleh doa-doa orang tuaku ditolak oleh langit karena aku yang mulai longgar? Kemudian di pagi hari ini, ku tanyakan pada diri yang tiba-tiba tersentak dalam tidur.  Membasuh muka dengan sentuhan air, berwudhu lalu bertanya pada yang patut di tanya, pada yang punya semesta. Allah. Beginikah caranya menegurku?

Aku selalu terngiang dengan kalimat-kalimat yang dikutip Gie,

Seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua

Dan Gie curang. Di bulan ini, bertahun-tahun silam. Tepat sehari sebelum dia berganti usia menjadi 27 tahun (16 Desember 1969) . Dia benar-benar menunjukkan katanya. Meninggal saat menjalani hobinya mendaki gunung. Meninggal di usia muda. Dia curang, dalam usianya yang singkat, meskipun tak jua dia dapatkan apa itu makna hidup, meskipun tak jua dia dapatkan sosok yang dia cintai, dia mampu menggoreskan jejak-jejak tak terhapus hingga kini. Hingga detik ini, telah lebih dari ribuan mahasiswa Indonesia yang membaca bukunya, jejaknya dan keseksian alam pikirnya. Walaupun tak sedikit pula yang berlawanan fikir dengan dia. Mana dia peduli.

 Akupun tak yakin (pasti malah) tentang ke-tak-ada-annya nasib,Aku berpendapat bahwa kita adalah pion dari diri kita sendiri sebagai keseluruhan. Kita adalah arsitek nasib kita, tapi tak pernah dapat menolaknya. Kita asing, ya kita asing dari ciptaan kita sendiri

Kadang aku iri dengan mereka yang mati muda. Tak perlu lama menjalani hidup. Permainan terbesar yang sudah dimulai saat manusia bernafas, semakin menjadi-jadi setelah manusia berusia 25 tahun dan berakhir ketika nafas berhenti. Apa perjanjian kita pada Tuhan? Hingga akhirnya bersedia memilih untuk hidup di dunia fana, menjadi manusia. Padahal dalam kitab suci pun, dinyatakan

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah (yaitu menjalankan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan seluruh larangan-Nya) kepada seluruh langit dan bumi serta gunung-gunung. Maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu banyak berbuat dzalim dan amat bodoh. ” (Al-Ahzab: 72)

————————————–

Mungkin pertanyaan pertama pada diri harusnya bukan

bagaimana cara bahagia?

ataupun

mengapa harus bahagia?

Melainkan,

mengapa harus hidup?

 

 

Subuh, Fukuoka, 2 Desember 2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s