Namun dia tidak bangun

chi…. chi… suara batuk dari kucing jinak yang nongkrong di rumah menganggu tidur malamku. Padahal badan masih cukup lelah. Baru kemarin aku kembali ke tempat kelahiranku, pulau sumatra setelah hampir seminggu aku berada di pulau Jawa. Waktu saat itu menunjukkan jam setengah dua pagi untuk waktu Indonesia Barat. Tubuhku sendiri sudah beradaptasi lebih dari 4 tahun dengan waktu dua jam lebih awal dari waktu Indonesia bagian barat. Sehingga berdasarkan jam biologisku, mestinya saat ini sudah jam setengah empat pagi. Tetap dini hari. ting… ting…

Saat aku berada di dalam toilet, terdengar suara batu di ketukkan pada tiang listrik.

Masih juga ada suara seperti ini di tahun 2017. Sudah lama sekali suara ini ga terdengar. Masihkah ada orang melakukan ronda?  ujarku dalam hati.

Berhubung hanya aku yang terjaga di rumah tersebut, maka kuputuskan untuk cerita sejenak pada Sang Kuasa. Aku bentangkan sajadah ke arah kiblat, dan mulai berdoa padaNya. Bersamaan dengan kegiatan tersebut, kembali terdengar suara-suara yang kali ini seperti suara microphone yang diketuk.

Innalillahi wa innailahi roji’un, telah meninggal bapak……..

Sepertinya liburan kali ini sangat lengkap. Setelah sebelumnya aku menghadiri pernikahan temanku di pulau jawa, kali ini aku mendapatkan kabar kematian. ujarku dalam hati.

Berhubung aku masih ngantuk, maka aku lanjutkan kembali tidur. Siapa tokoh yang meninggalpun, aku merasa aku tidak kenal.

“Ma, Pak RT meninggal ma. Pak Y meninggal.” Ujar papaku kepada mama.

Saat itu aku tetap saja tidak tau siapa tokoh yang meninggal. Entah karena amnesia sesaat yang telah menghapuskan banyak memoriku tentang kota ini, atau karena pengaruh kelelahan. Setelah kesadaranku terkumpul, aku baru sadar yang meninggal adalah ayah dari teman kecilku.

“Padahal baru kemarin aku ngobrol dengan dia, bahkan kami berbincang tentang anomali keluarga kita yang dianggap sangat aneh di mata awam. Kita yang terpencar-pencar serta kartu keluarga kita yang berbeda, ternyata menimbulkan tanya “kok bisa”  bagi mereka yang usil.  Padahal keluarga kita baik-baik saja, hanya masalah jarak saja.” ucap papa pada mama.

“Kepergiannya yang mendadak, membuat orang -orang ragu pada saat mendengar nama beliau yang disebut-sebut dalam pengumuman toa masjid mengenai laporan orang meninggal. Baru saja kemarin dia menang juara 1 perlombaan tenis. Tubuhnya terlihat bugar… hanya saja pada saat tengah malam, di saat tidur, istrinya mendengar suara dengkuran keras….. dan semuanya berakhir.” Lanjut papa pada mama.

Jangan salahkan telingaku yang super stereo sehingga mampu menghimpun informasi ini.

“Nak, datanglah ke sana. Melayat.” kata mama

“Tapi ma, aku gak tau gimana budaya melayat di sini. Aku sudah lupa banyak hal” ucapku.

“Aku temenin”. Kemudian berdua kami datang ke rumah duka. Di situ tampak istri dari pak Y sedang menangis, menceritakan kejadian yang terjadi dalam semalam

Hilang rasanya sebelah kaki ku. Aku bukannya tidak ikhlas. Aku hanya ingin melampiaskan rasa yang ada di dada. Siapapun yang mengalami hal ini, tentu saja akan menangis. Tanpa pesan terakhir dia pergi. Lemas badanku. Sempat awalnya aku berpikir bahwa dia hanya bercanda. Saat dengkurannya sangat keras. Aku coba bangunkan dia. Namun kemudian aku sadar, ini bukan dengkuran biasa. Aku letakkan kepalanya di pahaku. Bangun sayang… bangun sayang… jangan bercanda sayang… ku kecup seluruh wajahnya…. bangun sayang… Namun dia tidak bangun…

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s