S3 kedokteran di Jepang (malam minggu bareng kak wana)

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan kabar mengembirakan, mengenai lahirnya doktor baru di bidang kedokteran.

Siapa emangnya???Doktor muda ini bernama Nirwana Fitriani Walenna, M.D, PhD
Atau bisa kita panggil, kak Wana, dokter wana juga boleh deh. Kakak kece ini telah menyelesaikan sekolah S3 nya di Kyushu University, di Department of Bacteriology, graduate school of medical science.

Berhubung kak Wana orangnya sangat ramah, maka saya mendapat kesempatan utuk interview singkat mengenai penelitian beliau melalui wadah live instatories. Kegiatan ini dilakukan saat malam minggu. (kelas banget ya cara kita malam mingguan hehe)

Poster pengumuman di wadah instagram

Jadi kak Wana ini merupakan alumni dari Universitas Hasanudin fakultas kedokteran.

Beliau sekolah di Jepang dengan disponsori oleh beasiswa LPDP. Keren kan? Awal proses kak wana melanjutkan kuliah di Jepang adalah dengan bertemu langsung dengan professor yang ada di Kyushu University dan berkonsultasi dan juga hasil diskusi dengan senior beliau yang telah berkuliah di Kyushu University sebelumnya.

Malam mingguan kita

Di live instastories yang kita lakukan, kak Wana menjelaskan bahwa beliau menempuh pendidikan paskasarjana di kategori basic science. Nah, perlu teman-teman ketahui bahwa di Jepang itu ada dua jenis paskasarjana di bidang kesehatan yang dapat ditempuh. Mereka adalah:

  1. Klinis
  2. Basic Science

Biasanya untuk menempuh pendidikan kedokteran bidang klinis, diperlukan gelar spesialis terlebih dahulu. Untuk dokter umum biasanya diarahkan ke basic science. Namun juga perlu dicatat bahwa walaupun sudah mempunyai gelar spesialis, mahasiswa Indonesia biasanya tidak memegang pasien langsung, biasanya melakukan penelitian melalui eksperimen ke hewan atau animasi.

Kak Wana menjelaskan bahwa penelitian beliau mengenai bakteri Chlamydia pneumoniae (pada umumnya dokter menganggap bakteri ini berkontribusi untuk penyakit radang paru) (bakteri ini menjadi bersifat akut). Namun ternyata bakteri ini juga berkontribusi besar ke berbagai macam jenis penyakit yang ada di dunia, seperti penyakit jantung dan obesitas (dan sifatnya menjadi kronis) . Hal yang mencengangkan, hampir 60 persen manusia di dalam tubuhnya terdapat bakteri Chlamydia pneumoniae ini. Bakteri ini menjadi berbahaya karena bakteri ini “keras kepala” atau bersifat persisten. Namun bakteri ini biasanya tidak bereaksi kecuali ketika tercetus oleh faktor tertentu. Mau tau lebih lanjut tentang riset kak Wana?

Berikut ini link penelitian kak Wana :

Chlamydia pneumoniae exploits adipocyte lipid chaperone FABP4 to facilitate fat mobilization and intracellular growth in murine adipocytes.

Namun sayang sekali, dikarenakan gangguan teknis, live instastories malam ini tidak bisa dilakukan dalam waktu satu jam. Tapi ada satu hal yang perlu diingat. Yaitu pesan dari kak Wana.

Harapan dari kak wana adalah :

Harapan saya kedepannya banyak mahasiswa Indonesia yang tertarik untuk meneliti di bidang kesehatan, masalah kesehatan di Indonesia sangat banyak, terutama penyakit infeksi.

Berikut rekaman aktifitas kami

next time, malam mingguan sama siapa lagi ya????

Apa yang buat kita jadi kita?

ayo cari tau!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s