Pulang.

Orang asia timur, mempunyai ciri khas mata kecil, badan kecil, berkulit kuning. Iya kan? sebut saja negara tiongkok. Yang ada di otak kita adalah sosok seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Padahal, layaknya Indonesia, ada etnis lainnya yang tak melulu berbadan kecil serta bermata kecil. 22 Tahun saya hidup di bumi, saya gak pernah tau ada eksistensi etnis ini. Menjadi suatu kejutan bagi saya, ketika seorang perempuan berbadan besar, bermata besar, berkulit putih, dengan wajah khas asia tengah mengatakan bahwa dirinya berasal dari negeri tirai bambu. 

Di Jepang, selain orang dengan kewarganegaraan Jepang, ada dua warganegara mayoritas lainnya yang menduduki negeri ini.   Benar, bangsa dari negeri tirai bambu dan bangsa dari negeri gingseng. Efek sampingnya tentu saja saya menjadi bersahabat dengan dua kebangsaan tersebut. Selain bangsa Jepang. Kali ini marilah saya bahas tentang sahabat saya dari negeri tirai bambu. Dalam hal persahabatan, orang negeri tirai bambu jauh lebih loyal dan lebih jujur dari bangsa lokal. Dengan mereka kita bisa duduk sama rendah, berdiri sama tinggi (kalau tinggi badannya sama). Bisa ketawa bareng-bareng, dan jalan bareng. Meskipun status saya adalah seorang muslimah berjilbab. Mereka bahkan acap menjaga saya dan mengingatkan saya tentang sudah solat atau belum.

Di sisi lain, ada juga sahabat saya, masih dari negeri tiongkok. Yang ternyata juga muslimah seperti saya. Badannya besar, tinggi, matanya besar. Cantik? sangat. Dulu bapak-bapak dari Indonesia acap sekali membicarakan kecantikan dia. “jadi pengen jadiin saudara istri” sst, jangan dibocorin percakapan ini. Cukup jadi rahasia kita aja. Seperti orang cantik pada umumnya, kalian tidak akan menemukan satupun fotonya di media sosial. TIDAK AKAN.

Sahabat saya yang satu ini, perjuangan hidupnya gak main-main. Dia dibesarkan oleh ibunya saja. Ah iya, nenek dan kakek nya juga. Berasal dari suatu daerah yang besarnya 1/6 negara tiongkok. Di mana daerah tempat tinggal dia itu dingin, dan makan daging kuda adalah hal yang biasa. (Seumur hidup saya belum pernah makan daging kuda euy… mihil soalnya). Di daerahnya juga dapat terlihat pegunungan bersalju, katanya daerah tersebut juga berbatasan langsung dengan Tibet. Tempat impian saya itu.

Suatu hari di toilet, entah bagaimana awalnya, percakapan kami berakhir dengan perdebatan mengenai permasalahan kewarganegaraan. Saya cukup heran, kenapa ada manusia yang benci dengan negaranya sendiri. Setiap ditanyakan negara asal, dia selalu menyebut nama daerahnya daripada nama negaranya. Saya pernah berkata

“hei, buka matamu. Coba saya tanya sekarang, passport negara mana yang kamu pegang saat ini? Itulah kebangsaan mu. Kamu harus akui itu”

Dan itu bertahun silam, sebelum keadaan semakin memburuk. Dianya waktu itu bagaimana? Dulu ketika saya terlalu lugas, dia sempat ngambek. Simple karena saya ga tau luka yang dia rasa. Indonesia terlalu nyaman. Minimal buat saya. Karena sebagaimanapun, saya bangga mengang passport Indonesia. Walaupun warnanya hijau. Bukan biru….
.
.

Sekitar dua tahun yang lalu, dia pulang ke kampung halamannya melepas rindu tentu saja. Iseng saya bertanya, gimana kondisi yang terjadi kalau kamu pulang?

lalu dia menjawab,

Atribut keagamaan dilarang di daerah saya, maka sebelum keberangkatan, saya harus melepaskan jilbab saya ini. Seluruh aplikasi yang berkaitan dengan agama harus saya hapus. Karena setibanya saya di imigrasi, handphone saya ini akan diperiksa. Mereka punya aplikasi khusus untuk mengintai hal-hal apa saja yang berada di dalam handphone.

Dia adalah wanita berani. Menurut saya. Idenya menggunakan jilbab sebenarnya ditentang keras oleh keluarganya, karena mereka memikirkan alasan keamanan anak mereka. Hingga dia terpaksa tetap menggunakan jilbabnya diam-diam. Namun kini keluarganya telah tau. Dan mereka tidak bisa berbuat apa apa. Saya melihat rasa cinta pada agama sangat besar ada padanya. Kadang saya malu. Karena saya yang bebas ini, masih suka nakal. Dan kadang pergi kencan…

Dua bulan yang lalu, dia mengirimkan suatu link pada saya. Saat itu saya sedang tidak dalam mood untuk membaca artikel. Saya hanya membalas “ya, nanti saya baca”.

Hingga akhirnya kami pun jalan bareng, kita berbicara tentang rencana-rencana yang akan dilakukan ke depan. Di depan restaurant , saya berkata tentang link yang dia kirimkan di waktu lampau. Karena saya tidak mengerti apa maksudnya. Wajahnya mendadak berubah menjadi serius. “saya gak ingin merusak mood. Nanti saja”. Batin saya berkata, persoalan pelik kayanya ini.

Padanya saya ceritakan kisah liburan saya di Indonesia. Hal yang paling berat ketika pulang adalah saat kembali. Kembali pada kesendirian di kota antah berantah ini. Kau tau, ketika pulang, kau merasakan kehangatan, kau temukan keluarga mu. Dan orang-orang berbicara dengan bahasa yang sama dengan mu.

Sesaat kemudian mulailah dia bercerita. Raut wajahnya kembali serius.

“link yang saya kirimkan ke kamu itu adalah mengenai petisi tentang perilaku yang dilakukan pemerintah negara saya kepada etnis kami. Pengungsi yang berada di Malaysia, turki dan negara lainnya disuruh kembali ke negara itu. Sementara itu di negara tersebut telah disediakan camp  khusus untuk kami. Layaknya seperti Nazi jaman dulu. Pemuka kami dipenjara, dia adalah orang yang menerjemahkan Al-quran ke bahasa kami. Padahal waktu itu pemerintah sempat mendukung kegiatannya. Saya ga habis pikir kenapa akhirnya pria berusia 80an tahun itu berakhir dipenjara, dan akhirnya juga dia meninggal. Situasi semakin memburuk. Si O sempat berniat menyebarkan link terkait petisi tersebut, tapi saya larang. Kamu taulah, di universitas kita ada berapa mahasiswa dari daerah saya. Pasti akan ketahuan bahwa ini gerakan saya yang menyebarkannya” ucapnya.

Saya yang gak bisa membayangkan situasi gawat itu seperti apa, karena simple saya ga punya pengalaman langsung. Melanjutkan tanya

“hal ini juga terjadi di kota tempat tinggal mu?”

“iya” jawabnya.

Dia pun melanjutkan:

Paman ku berkata jangan pernah menghayalkan untuk bisa pulang. Lupakan kampung halaman. Pun kalau saya pulang, mungkin saya akan terbunuh”

“Saya tidak bisa pulang lagi. ” lanjutnya.

“tapi ibumu tetap bisa pergi keluar dan ke Jepang kan?” lanjut saya yang naif itu

” Entahlah” Ucapnya.

Ekspresi kemarahan dan kekecewaan terasa di auranya. Tidak, dia tidak menangis. Dia wanita kuat. Saya hanya mampu memeluknya.

” eh tau gak. Di sana ada diskon!”  ucap saya demi mencairkan suasana.

IMG_20180211_190831_062
Bung, kau gak akan kuat merasakan aura manusia marah dan kecewa yang ditahan. Biasanya yang seperti ini, ketika lepas. Akan mengerikan. Sangat. .
.

 

Kecewa karena cinta, hanya akan membunuh jiwa satu orang. Kecewa karena negara, dapat membunuh jiwa raga satu bangsa

 

Kita…kita yang bisa pulang kapanpun ini bagaimana? akan kah baru memikirkan kembali untuk pulang ke Indonesia setelah menyadari tinggal di luar negeri tidak memberi benefit lebih daripada tinggal di negeri sendiri. Ketika kita terluka, kadang baru kita terpikirkan untuk pulang.

 

TTD.

Yang punya blog.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s