Try Everything ? Guru SMA part #3

hal yang paling menyedihkan adalah menyadari bahwa anak-anak ini tidak akan kita temui lagi – si amerika-

“Namun seiring waktu, lama-lama kita tidak akan menjadi sesentimental saat awal-awal dulu. Seiring waktu hati kita akan terbiasa dengan datang dan pergi anak-anak ini ke kehidupan kita”, lanjut si amerika.

Kisah kali ini merupakan kisah petualangan saya di sebuah sekolah negeri berusia 100 tahun. Berbeda dari sekolah sebelumnya, yang isinya adalah fasilitas berteknologi canggih, sekolah negeri ini terkesan seperti sekolah yang pernah saya baca di komik-komik. Dan mungkin karena suasananya “lebih nyata” di sekolah ini rasanya saya lebih dekat dengan para murid. Hal ini mungkin dikarenakan selain sekolah ini sekolah negeri, isinya pun tidak hanya satu gender saja. (Namun perempuan menjadi mayoritas di masing -masing kelas).

Karena kelas ini tidak diisi oleh satu jenis gender saja, tentu saja karakter yang mereka punya semakin menarik. Dan tentu saja saya jadi punya cerita yang bisa ditulis di blog ini.

f22e5bf4-33bc-456f-8372-1e6f37941f3d
Murid dengan style rambut bikin gagal fokus

Kalau kamu pembaca setia blog ini, kamu pasti tau bahwa saya punya daya hayal yang kelewatan. Ada satu murid yang cute namun style rambutnya bener-bener bikin saya gagal fokus. Setiap dia melakukan presentasi di depan kelas, rambutnya akan tertiup-tiup. Saya membayangkan kuman-kuman yang nyangkut di rambutnya. Piuh piuh piuh … dan rambutnya terbang-terbang… untung saja gak ada yang bisa baca pikiran saya.. ha ha ha… oh iya ngomong-ngomong soal baca pikiran, saya selalu bilang dari jaman baheulak bahwa saya adalah mind reader mau percaya atau gak ya terserah. Ha Ha Ha Ha.

Dalam kelas yang saya masuki, murid-murid dibagi dalam beberapa kelompok. Di kelompok saya, terdapat 3 murid. 2 perempuan 1 laki-laki. Uniknya, nama laki-laki yang jadi murid saya itu sama dengan nama suatu stasiun yang ada di Fukuoka. Sehingga ketika dia menyebutkan nama lengkapnya, saya tergelak. Namun lucunya sewaktu dia diminta untuk melakukan presentasi di depan kelas, dia menjelaskan tentang namanya dalam huruf kanji.

Huruf kanji nama saya adalah seperti ini, bukan nama stasiun kereta. Inget ya, beda

Sepertinya bocah tersebut memang dilahirkan untuk menjadi murid nakal yang cerdas.  Karena, dia selalu menulis presentasi on the spot, tanpa membuat draftnya di rumah terlebih dahulu, padahal temen-temennya yang lain pada bikin draft. Eh tapi  salah ding kayanya, memang semua murid di sekolah ini tampaknya murid pilihan. Bahasa inggrisnya jika dibandingkan dengan teman-teman saya waktu SMA dulu tentu saja lebih baik. keren deh.

Sama seperti di program sebelumnya, kegiatan banyaknya diisi dengan diskusi dan presentasi. Topik yang dibahas pun mengenai apa tujuan hidup dan bagaimana cara menjadi global leader. Menurut saya cerdas sekali pemerintah Jepang untuk menyadari bahwa sikap pemalu tidak layak dipertahankan, dan sudah saatnya memupuk generasi muda mereka untuk menjadi generasi kritis.

Hampir dalam setiap sesi diskusi, semua murid menyadari bahwa kekurangan terbesar dari orang Jepang adalah pemalu. Maka mereka berpikir bahwa hal yang paling penting adalah dengan mengungkapkan perasaan dan pendapat yang ada. Pendapat yang dipendam dapat menimbulkan kesalahpahaman, dan itu tidak baik. Begitu pendapat para murid. Dan saya setuju dengan hal tersebut. Namun saya menambahkan, bahwa terkadang menjadi “too direct” juga tidak baik, kita harus memahami karakter lawan bicara terlebih dahulu sebelum mengungkapkan apa yang kita rasakan. Karena di dunia ini, gak semua orang suka dengan orang yang blak-blakan (sebenarnya saya semi curhat waktu itu haha)..

Waktu tiga hari telah berlalu, saya melihat banyak perubahan dari para murid.

Dalam dunia pendidikan, hal yang paling menyenangkan dari seorang guru adalah ketika seorang murid menunjukkan progres yang lebih baik

Saya bangga sekali dalam kompetisi pidato antar kelas, salah satu murid saya terpilih menjadi perwakilan kelas. Rasanya ketika dia mewakili kelas, saya jadi terharu. Rasanya saya jadi ingat dosa-dosa saya dengan guru-guru saya di waktu sekolah.

Saya rasa pemerintah Indonesia juga baiknya mencoba untuk mengundang murid-murid asing untuk acap menjadi narasumber dalam diskusi antar kelas, agar wawasan murid-murid semakin terbuka dan makin pada jago ngomong bahasa inggris. Dalam speech terakhir, saya berkata pada para murid

Seperti pada tema diskusi hari ini, yaitu tentang global leader. 20 Tahun lagi kalian akan berusia 36 tahun, dan saya akan berusia 46 tahun. Pada masa itu, kitalah yang menjadi pemimpin dunia. Maka mari kita berusaha bersama. Ingatlah 3 kata ini, DREAM, BELIEVE, and MAKE IT HAPPEN

Okay begitulah cerita “Try everything – #guru SMA” the series. Semoga ada hikmah yang bisa kalian dapatkan

IMG-20180328-WA0001
Tim untuk SMA negeri di Fukuoka
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s