Gelombang pemuda mewarnai Pemilu 2019

gue gak suka politik, gue memilih untuk ga ngomongin politik. Menurut gue politik itu kotor

Itu adalah hal yang paling sering gw denger dalam lingkungan pertemanan gw. Jangan salah, gw pun juga dulu paling males kalau udah bahas politik. Terutama setelah tragedi tahun 2009, di mana orang yang gw sangat respek menerapkan kampanye politik hitam di lingkungan kampus.

Namun mau bagaimanapun gw menghindar, ternyata pemimpin keluarga gw malah tercelup dalam dunia politik Indonesia. Bahkan gw inget, profesor gw meramal bahwa gw akan jadi seorang politikus. Tapi gw harap itu gak akan kejadian, karena itu bukan ramalan pertama kali yang gw dengar. Tahun 2010, seorang dosen di kampus, ketika sedang mengajar di depan kelas, tiba – tiba ngomong ke gw “anda akan jadi politikus”.

Gw masih ingat dengan jelas, berbagai macam puisi dan gambar yang gw buat ketika SD-SMP adalah hal-hal yang berhubungan kemuakan gw dan kejijikan gw dengan politik di Indonesia. Gw benci dengan para politikus yang ujung-ujungnya kecebur jadi koruptor. Atau ngerasa menjadi orang yang paling dewa. Namun terkadang hal yang dibenci akan selalu masuk ke radar jangkauan alam pikir kita. Bagaimana tidak, sedari kecil gw udah diajak bokap untuk datang ke kampanye GOLKAR, tahun 1999 gak sengaja gw menyaksikan langsung tragedi 13 mei (saat itu nyokap lagi kuliah di UI). Datang ke acara PKS pun juga dulu sempat jadi agenda tahunan (dan sumpah gw datang dalam kondisi tidak sengaja, gw datang for the sake kemanusiaan, tapi mana gw tau pas sampai di lokasi acara tersebut jadi wadah kampanye). Dari kecil pula gw suka nguping diskusi nyokap bokap tentang Indonesia dan keresahan mereka. Plus ditambah abang gw yang anak sosial dan suka ngajak gw diskusi.

Hingga pada suatu titik… ketika gw balik ke Indonesia untuk pertama kalinya setelah gak pulang-pulang ke Indonesia
“jadi bagaimana pendapat kamu tentang pemerintahan Indonesia” tanya abang gw

lalu gw jawab

“aku gak mau bahas. Aku tau ujung pembicaraan bakal kemana, percuma diskusi tentang ini. Soalnya kamu bias”

dan… marahlah dia

Otak kamu dicuci ya semenjak di Jepang? kalau bukan kita yang memikirkan tentang Indonesia, lantas siapa lagi? kalau kamu pikir aku bias, coba kita duduk bareng, dari sisi mana aku biasnya?


Setelah bercermin cukup lama, ternyata gw adalah cerminan masyarakat Indonesia pada umumnya. Yang merasa terluka pada politik, lalu memilih menjauhinya. Padahal, bila dipertimbangkan lagi, bagaimana kita bisa mengambil keputusan bila kita tidak tau kondisi apa yang sedang terjadi di Indonesia, atau seperti apa karakter para calon pemimpin yang akan menggerakkan roda pemerintahan Indonesia kelak?
Merujuk data KPU, pada pemilu tahun 2004, angka golput sebesar 15,93%. Angka golput meningkat menjadi 29,01% dalam pemilu tahun 2009. Namun kemudian angka golput menurun di Pemilu tahun 2014 lalu, yakni sebesar 24,89%.
Beberapa hipotesis menyatakan bahwa tingginya angka golput dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal. Faktor internal lebih banyak mengarah pada ideologi pemilih, misalnya konsep ideologi yang ditawarkan oleh parpol di Indonesia tidak sejalan dengan ideologi sang pemilih. Sedangkan faktor eksternal kemungkinan dipengaruhi oleh sisi administratif dan kesiapan parpol.

Dua faktor besar tersebut, mengakibatkan anak anak milenial seperti lu dan gw jadi males untuk cari tau. Untuk ikut membela ataupun untuk ngebahas, tentang apa yang harusnya kita perbuat untuk negeri.

Padahal kalau hal ini terus dibiarkan, apa yang akan terjadi dipemilu 2019? mengingat bakal ada 100 juta pemilih dari kaum milenial. 100 juta lo! ga main-main udah hampir sama gede dengan jumlah penduduk Jepang. Jadi kita-kita para kaum milineal ini harus ngapain?

ayo silahkan komen

Advertisements

2 Comments

  1. rfdarmayanti

    Betul bingit. Harus siap2 dari sekarang. Paling ga kita pilih salah satu yg lebih baik. kasian kalo negara sendiri dicuekin, kasian kitanya…

    1. fadillaazeaza

      widiiiw tetua Hakozaki nyamperin. ada artikel menarik nih. gw baru tau kalau di Indonesia, memilih itu bukan kewajiban. tapi hanya jadi hak. itu juga mgkin yang jadi penyebab tingkat apatis di negara kita tinggi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s