Sarapan ala vegetarian

Saya pernah post  pada tahun 2015 mengenai tulisan berjudul filosofi makan  dan tampaknya bulan ini tulisan ini kembali muncul.  Tulisan itu muncul karena saya melakukan self diagnosis yang menduga saya kena kanker. Dan berakhir di cela ama abang saya di sini (dokter gigi). Karena bukan kanker, melainkan bisul. Urusan sakit, saya memang lebay. Ya kalau gak lebay, ngapain saya kuliah di bidang biomed eng.

Bertahun-tahun tinggal di Jepang, hal yang paling banyak berubah adalah selera saya tentang makanan. Sebelum menjejakkan kaki di Jepang, saya adalah seorang “karnivora” sejati. Sulit bagi mama saya untuk meminta saya makan sayur walau hanya setangkai sayur bayam. Terkait porsi makan nasi, juga sebelumnya makan saya kaya kuli. Dan semua berubah semenjak di protes ama ex room mate. Karena saya makan nasinya luar biasa.

Saat itu sebelum fenomena self diagnosis saya kena kanker, saya kembali ke Indonesia di tahun 2015. Ternyata ada perubahan yang terjadi pada mama saya, dia tidak lagi makan nasi dan sejenisnya, alias diet karbo. Terjadi perubahan significant pada tubuhnya. Dan saya pun pada tahun 2015 juga sempat mencoba. Disinilah mungkin awal mula saya lepas dari makan nasi dan coba makan sayur-sayuran.

Entah kenapa dedagingan di Jepang tidak cocok untuk badan saya. Tiap kali makan daging, daging merah, selalu akan ada efek samping yang muncul dari segi emosi dan kesegaran badan. Hingga pada akhirnya, saya sangat jarang makan daging. Berkebalikan. konsumsi saya terhadap seafood terutama salmon dan tuna menjadi lebih meningkat. Karena daging putih seperti ayam, juga saya rasakan tidak sehat. Daging halal yang diperjual belikan adalah daging beku yang sudah melakukan lintas benua dan macam-macam keadaan, yang kondisinya sangat berkebalikan saat saya di Indonesia dulu. Mama selalu membeli daging ayam kampung yang baru saja disembelih (yang cenderung masih muda agar dagingnya tidak keras ) di pasar.

Sarapan Pagi ini

Terhitung 2018, sudah sangat jarang saya makan nasi.  berarti sudah 3 bulan ini sangat sedikit saya makan si Oriza Sativa, efeknya adalah setiap saya kembali makan nasi, rasanya badan menjadi berat. Ya gak heran, makin ke sini badan saya makin kurus.

Tapi entah karena kondisi tanah di Jepang beda dengan di Indonesia, saya merasaka sayur-sayuran di sini lebih enak lebih segar lebih bersih dan lebih alami. Makanya saya merasa gak heran juga bila orang memilih untuk menjadi vegetarian di Jepang. (anyway emang perbedaan mendasar masakan Indonesia dan Jepang adalah pada kesegaran masakan. Bila Indonesia menitik beratkan pada bumbu, Jepang menitik beratkan pada rasa alami bahan yang dipakai).

Jujur saja saya mengetik tulisan ini sambil memakan menu yang ada di foto itu. Tomatnya terasa manis, sayur yang dikunyah berbarengan telur krispi berbalut keju meleleh dan tuna menambah kenikmatan pagi ini.

Saya ingat abang saya yang beragama hindu di sini berkata:

Daging yang dimakan dengan tujuan sacrifice

Karena segalanya diusahakan untuk ibadah, apa ini juga alasannya mengapa kita makan wajib membaca doa?

Saya kutip lagi tulisan saya dulu :

teman saya yang mantan vegetarian berkata, bahwa filosofi pada vegetarian bukanlah sekedar tidak memakan daging-dagingan, melainkan mensyukuri dan berterimakasih atas apa yang orang lain berikan.  Terdapat suatu pepatah di Au lac. Mereka mengatakan bahwa vegetarian di dalam hati adalah yang terbaik. Kenapa mereka mengatakannya demikian? Hal ini disebabkan karena perbuatan, ucapan dan pikiran kita haruslah bersamaan, serasi, kita bukan saja hanya memakan vegetarian. Itu hanyalah perbuatan saja. Kemudian ketika kita berbicara, kita berbicara seperti memiliki gunting atau sebuah batu dan memotong di mana-mana, itu bukanlah pembicaraan vegetarian.

Banyak orang yang tersaru dengan kata vegetarian yang dikira berasal dari kata vegetable (sayur-sayuran). Sebenarnya vegetarian itu berasal dari bahasa latin “ Vegetus ” yang berarti “aktif / yang hidup / teguh / bergairah/ kuat.”

Makanya bila makan dirumah orang, apapun yang ditawarkan, asal itu halal,, saya akan memakan dengan kalap.

Hewan saat masih hidup punya kemampuan mengeluarkan zat yang tidak berguna dari tubuhnya. Tapi begitu ia dibunuh karena rasa takut, sedih, marah, kesakitan sampai puncaknya sehingga menimbulkan racun dalam tubuhnya. Orang makan daging sama dengan makan racun.

kalau udah bahas vegetarian gini malah jadi ingat sahabat bule saya yang selalu memasang muka jijik setiap kami membahas makanan dengan menu daging. (she is PhD student dan expert di bidang food nutritionist)

 

kamu pagi ini sarapan apa?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s