Language barrier is a real thing.

Tadi gempa dan saya terkurung di luar, karena saya ketinggalan kartu mahasiswa saya di lab.

Ujar saya di depan pos jaga kampus 4 tahun silam. Saya berbicara dengan petugas yang asli orang Jepang dengan menggunakan bahasa inggris. Sang lawan bicara tak mengerti apa yang saya sampaikan. Yang kami sama-sama paham adalah waktu itu adalah dini hari jam 2 pagi, dan saya datang dalam keadan panik. Oh ya saat itu adalah winter pertama saya, dan suhu pada saat itu adalah 5 derajat celcius. Setelah beberapa saat baru mereka paham bahwa saya terkunci di luar dan diminta menunggu maksimal 2 jam kedepan. Terduduklah saya di depan pos jaga kampus. Dan hari itu tercetus sebutan DILLA THE EXPLORER.

Permasalahan bahasa selalu menjadi masalah utama bagi tiap perantau. Saya tumbuh dan besar di Bengkulu dengan menggunakan bahasa Indonesia. Orang tua saya adalah seorang perantau asli Minang yang mencari nafkah di kota Bengkulu, sebelumnya mereka sempat tinggal di beberapa kota, yaitu Bandung dan Jakarta dalam rangka masa akademis Ibu saya. (Saat itu saya belum lahir). Dan dengan kondisi pindah-pindah kota itu, abang saya jadi mengalami keterlambatan bicara, karena bingung harus berkomunikasi dengan bahasa apa. Semenjak itulah di keluarga kecil kami, bahasa Indonesia adalah bahasa utama. Perkara kenapa saya tidak pernah memanggil abang saya dengan awalan “abang atau kakak atau uda” seperti layaknya orang Indonesia lainnya adalah permintaan dia, karena saya kecil terlalu bandel dan dia malas jadi abang saya. Ha Ha Ha.

Siapa yang lebih pintar, Vira atau Dilla?

Tanya tante saya yang merupakan adik papa saya. Saya sangat tersinggung mendengarnya. Karena saat itu umur saya adalah 15 tahun, sedangkan Vira adik sepupu saya itu berumur 5 tahun. Dia dinyatakan jago berbahasa Indonesia walaupun dia baru saja datang dari Australia. Sedangkan saya dianggap gak pandai-pandai berbahasa minang, padahal tumbuh besar di Indonesia. “what the heck!”

Itu adalah awalan yang saya alami mengenai language barrier. Bagian otak yang berperan penting dalam perkara bahasa adalah Broca’s area (area frontal) dan Wernicke area (area temporal), dan dalam kasus ini, setiap melihat orang yang jago berbahasa langsung mengantarkan asumsi di kepala saya bahwa struktur area otak mereka menarik untuk diteliti.

Berhubung saya tumbuh dan besar dalam keluarga berbahasa Indonesia, serta tinggal di area kota Bengkulu, tidak menjadikan saya mahir dalam berbahasa Bengkulu asli ataupun mahir dalam bahasa minang. Inilah yang menjadi masalah pertama ketika saya akhirnya menjadi mahasiswa baru di kampus Andalas. Saat ospek, para senior yang sok kuasa membentak kami semua dengan menggunakan bahasa minang yang kasar. Beberapa perempuan merasa tersinggung di bentak-bentak dan dikasari, sedangkan saya cuek. Karena saya gak mengerti apa yang mereka bilang. Contohnya:

Manakua!! jan ka gadang-gadangan kau!

well, saya saat itu hanya plangak plongok, sedangkan teman-teman saya sudah pada menunduk dan menitikkan air mata. Di minang, panggilan kau adalah panggilan yang sangat kasar. Berbanding terbalik dengan Bengkulu, dimana kata sapa sehari-hari adalah “kau”. Manakua? what the heck is that. saya gak pernah mendengar kata itu sebelumnya. Hingga akhirnya sang senior menyuruh saya menunduk, karena kata arti dari kata manakua ternyata menunduk. Bayangkan itu baru sesama area sumatra. Apa yang terjadi bila antar pulau?

Tenang saya sudah expert dalam hal ini. Suatu hari saya jalan dengan cowo yang tumbuh besar di salah satu kota di pulau Jawa. Saya bilang ke dia bahwa kok saya deketnya ama orang-orang yang punya masalah mental. Kebelakang saya baru mengerti bahwa di beberapa daerah makna deket itu adalah “gebetan, hampir jadian atau pernah jadian” dalam bahasa saya. Dekat atau deket ya cuma sekedar temen yang emang deket tanpa ada prospek buat dijadiin pacar.

Lalu bagaimana bila luar negeri? fuh…

 

IMG_1627
Saya waktu uji nyali ke Okinawa, tebak bahasa apa yang saya gunakan dengan penduduk native ini?

 

Bisa gak sih kamu bayangin ketika sedang marah banget atau sedih banget malah batal karena bingung harus mengekspresikannya dalam bahasa apa? ya waktu di Indonesia itu bukanlah hal yang penting. Namun ketika kamu bukan berada di negaramu, ini menjadi big thing. Salah penyebutan berarti lain. Contohnya penyebutan Ketawa dan Cinta. Beberapa menyebutnya kata Laugh menjadi Laf yang ujung-ujungnya mirip penyebutan kata Love. Itu terjadi ketika saya jalan dengan teman saya yang berkebangsaan Tiongkok.

Belum lagi dengan bahasa Jepang saya yang masih level beginner gak terbayang kan bagaimana saya bisa berkomunikasi dengan mereka bertahun-tahun. Oke baiklah saya bocorin rahasianya di sini. Bagaimana saya tetap dapat berkomunikasi dengan banyak orang walaupun dengan kemampuan bahasa yang cetek adalah dengan membaca ekspresi. Itu  point penting yang saya pegang dalam berkomunikasi. Bagaimana bentuk raut wajah dan perubahan intonasi suara, buat saya coba paham apa yang hendak di sampaikan. Tapi tetap saja kadang salahpaham terjadi. Apa yang saya tebak tidak selamanya benar.

Maka dari itu perut saya tergelitik dan rasanya mau muntah ketika ada seorang sosok yang katanya cantik jago dalam hal mikroekspresi di Indonesia. saya coba check latar belakangnya. Dia berani mengklaim diri sebagai pakar mikro-ekspresi dan sering muncul ditayangan tv komersial Indonesia. Sorry to say, saya harap saya ga pernah ketemu dia, karena hal ini begitu menggelikan. Di Lab saya, salah satu anggota lab juga meneliti tentang mikro ekspresi, namun cara pengukurannya jelas, dengan menggunakan alat. Bukan sekedar intuisi. ah sudahlah kok malah bahas mbak mbak itu.

 

Advertisements

One Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s