Bagaimana rasanya menjadi mahasiswa di ilmu neuroinformatika dan neuroimaging?

Hari sudah menunjukkan pukul satu malam, dan saya masih berkutat di lab. Padahal orang normal lainnya sudah terlelap jam segini (kecuali PhD student). Dan besok adalah hari minggu, waktunya hangout harusnya (kecuali PhD student tahun akhir). Saya pernah terdiam ketika ada anak sosial berkata “jadi mahasiswa eksak itu gampang. Sudah ada step dalam melakukan eksperimen. Tinggal ikutin aja langkahnya”. Saya agak curiga yang dia maksud jangan – jangan bidang biologi dan kimia. Kalau maksudnya adalah bidang informatika, elektro, bioinformatika, biomed eng.. dan sejenisnya.. Maka dia bisa disebut sotoy.

Sudah 4 tahun saya terdaftar sebagai mahasiswa di paska sarjana systems life sciences. Seperti ciri khas Jepang yang suka campur adukkan suatu ilmu, maka systems life sciences ini juga ilmu gado-gado. Di sini para peneliti di bidang informatika, elektro, engineer, kedokteran, farmasi, psikologi dan hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan disatukan. Gara -gara multisiplinari ilmu ini, saat saya menjalani kuliah master dulu, saya sempat nyaris muntah karena mata kuliah yang berkisar tentang Genetika dalam tingkat advance. Bagaimana tidak, basicnya aja saya tau secuil pas SMA. Di elektro mana ada yang namanya kuliah berbau biologi ataupun kesehatan.

Berada di lab neuroinformatika membuat saya juga terpaksa menyentuh dunia neuroscience. (tapi guru saya gak mau menyebut kami adalah neuroscience, melainkan biomedical engineer) Hal ini dikarenakan setiap seminar mingguan, lab kami berkolaborasi dengan lab cognitive neurscience. (nah mereka para neuroscience yang biasanya basic dasarnya adalah psikologi)

Di sinilah masalahnya. Ada perbedaan antara dunia sains dan dunia teknik yang diibaratkan perbedaan antara manusia dan simpanse dalam dunia nyata. Di dunia teknik, kita akan difokuskan dalam pengembangan alat. Memajukan performa suatu alat. Sedangkan di psikologi (sains) kita dituntut untut melihat efek dari stimulasi ke syaraf atau tingkah laku. orang neurosains sangat terpaku pada model eksperimen untuk di stimulasi ke subject dan mereka fokus dengan banyaknya jumlah trial stimulasi, jumlah subject yang diteliti, serta rujukan referensi melakukan kegiatan seperti apa. dimana oran teknik biasanya the heck with that…

 

bang
penelitian di bidang Engineering yang pasti bakal kena kritik sama orang neuroscience (cognitive psychology)

Dan itulah yang saya hadapi. Untuk mendapatkan gelar doktor, saya harus berhadapan dengan pakar neurosains ini dan juga harus memberikan logika yang benar pada pakar biomed eng itu.

Bidang ini masihlah hanya dikuasai oleh penduduk benua biru, Jepang dan Tiongkok. Hingga sampai detik ini belum ada mahasiswa dari ASEAN yang mampu mengenggam gelar doktor dari kampus saya dibidang ini. Why? simple karena basic knowledge dan hal hal lainnya yang sangat berbeda jauh.

 

 

ah nantilah dilanjutin lagi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s