Catatan PhD #3 Scientist vs Engineer

Kalau kita gak ngerti apa yang kamu omongin, bukan berarti kamu yang lebih pintar dari kami.

Kata salah satu guru saya yang bergelut dibidang cognitive neuroscience ke teman sesama lab saya. Dalam seminar mingguan, lab saya yang engineering banget berkolaborasi dengan lab cognitive neuroscience yang science banget.

Hari ini saya sadar mengapa PhD atau gelar doktor itu belum tentu tau segala hal. Hal ini tentu saja tergantung pada bidang kepakaran yang diambil. Professor di bidang hukum belum tentu paham dengan hal-hal di bidang engineer, pun sebaliknya ada sudut pandang yang berbeda.

Seperti dipostingan sebelumnya saat saya menjabarkan tentang rasanya jadi mahasiswa neuroinformatika, hubungan antara science dan engineer udah kaya hubungan antara Manusia dan simpanse. Ada missing link. Dimana bagi para engineer rule nya bisa diganggu gugat, sedangkan dalam science tidak. Dimana engineer membuat sesuatu yang gak pernah ada menjadi ada, merekayasa sesuatu hal. Sedangkan pihak sains lebih cenderung melakukan pengembangan pada hal yang sudah ada. Strict pada referensi atau hal yang sudah pernah ada.  (di sini missing linknya ternyata). (mungkin karena ituah engineering berarti rekayasa)

Riset saya sendiri memang berkisaran pada otak manusia. Hal yang saya teliti adalah attention level pada saat seseorang menjalani affective learning. Namun perlu dicatat, bukan efek dari stimulasi pada otak yang saya teliti, melainkan bagaimana mengolah sinyal analog yang penuh noise itu menjadi sinyal -sinyal indah yang enak dibaca atau diklasifikasi.  Namun ini yang menjadi perkaranya, dimana saya terfokus pada peningkatan akurasi klasifikasi sedangkan prof dari lab sebelah sibuk memperkarakan “hal-hal” yang menurut saya bukan bidang kepakaran kami sang engineering.

Hingga dalam perdebatan yang cukup alot akhirnya guru saya membela saya dengan menyatakan bahwa definisi attention bagi pihak engineering (saya) dan psikologi (guru sebelah)tampaknya berbeda. (dan di sini statusnya saya sedang MENGUPAS jurnal orang lain, yang sudah dipublish di “KITAB SUCI”.  Di sini akhirnya saya paham banget kenapa guru saya tidak pernah sudi disebut sebagai praktisi di bidang neuroscience melainkan pakar dibidang biomedical engineering.  Ya bagaimana bisa suatu artikel yang diterbitkan di kitab suci kami para engineer elektro a.k.a di IEEE diragukan kebenarannya karena konsep klasifikasi yang tidak sejalan dengan konsep psikologi?

Lalu apa pelajaran dalam catatan PhD ke 3 ini?

Saya jadi ragu.. jangan-jangan teguran keras “bila kami tidak mengerti apa yang anda katakan bukan karena anda pintar” itu sebenarnya merupakan pembuktian suatu superioritas?

Scientist dan engineer sesama manusia yang bergerak dibidang eksakta. Namun cara pandang dalam menghadapi masalah sangat berbeda. Ah iya pantas saja saya selalu lebih nyambung ngomong sama sesama anak teknik baik di Indonesia ataupun di Jepang.

DSC_0196.jpg
Gak ada korelasi antara foto dan opini saya kali ini. 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s