Catatan PhD #12 senyuman

>>Pak, di dalam bus ini boleh minum gak?

>kalau minum botol boleh, kalau makan atau yang kalengan gak boleh

Begitulah percakapan saya dengan pak supir paling galak dalam dunia per-bus-an Hakozaki kampus – ito kampus. Suaranya sangat keras, kalau ngomong tegas, badan tambun, pala botak, muka sangar. Beda tipis ama centeng pasar lah. Entah dari awal dari sekian banyak siswa yang suka bete ama dia, saya merasa bahwa pak supir mestilah orang baik yang mencoba profesional.

Berhubung badan saya yang kecil dan hoby saya ke kampus pake celana training dan hoodie, memang acap membuat orang salah kaprah. Karena penampilan ini fix seperti penampilan anak S1, dan gak ada tampang Teaching assistant. Maka ga heran kalau pak supir pernah bertanha dengan aksen ngebentak

>>Mahasiswa bukan???

>TA, teaching assistant

Jawab saya yang sudah pengalaman dengan perkara kaya gini. Dalam perkara dunia perbus-an ketika nunggu di area khusus dosen, TA,RA maka jawaban mengakui bahwa kamu adalah seorang pelajar adalah sama dengan bunuh diri. Karena pak supir ini pasti bakal mengusir kamu. Dulu waktu awal-awal tahun 2014, saya yang cengeng dibuat nangis krn cuma bentakan itu. Terbukti jawaban saya bahwa saya adalah TA tidak membuat saya di usir.

Beberapa hari kemudian, saya kembali menaiki bus kampus, maklum saya kan lagi tahun akhir nih ceritanya, ya jadi harus sering meeting ama pak guru.

>>Pelajar jurusan apa? – Ujar pak supir sambil tersenyum

>Saya TA Pak, pelajar juga. Wah jurusan saya gabungan kedokteran ama engineer pak-berusaha meyakinkan dia. Padahal baju saya beneran gak ada tampang buat mahasiswa doktor. (pertama kalinya pak supir tersenyum)

>>kamu mahasiswa tahun 2?

>wah saya doktor pak. Doktor 5 tahun, tahun ke 5 nih

>wah kamu dokter ya?

>iya (baru sadar maksudnya adalah isa (medical doctor). Eh bukan pak. Saya doktor bukan dokter. Mirip emang

>(pak supir tersenyum)

Segarang-garangnya supir bus kampus, ternyata kalau diajak ngomong dari hati ke hati bisa senyum juga. Saya semakin percaya dengan mantra “BICARALAH DARI HATI MAKA AKAN SAMPAI KE HATI”
Dan percayalah “senyummu kepada saudaramu adalah sedekah” memanglah nyata, karena akan ada rasa nyaman dihati bila kita berkomunikasi dengan wajah tenang dan senyum. Well dunia memang gak adil. Karena itulah, hidup itu harus ditertawakan. Bila kamu tertawa bumi akan tertawa bersamamu. Layaknya semangat, lebih gampang menyebar dibanding tangis. Karena bila kamu sedih, sedihlah sendiri! Kenapa? Semua orang yang hidup punya masalah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s