Merah Putih berbeda Rupa

Saya : Jadi apakah waktu jaman perang itu keluargamu turut bergabung dalam perang?

Dia diam sesaat, tampak berpikir. Kemudian menjawab

S : Baiknya kita sama-sama mendefinisikan apa arti bergabung dalam perang.

Percakapan tersebut di awali dari sebuah diskusi tentang naiknya peringkat passport Jepang di dunia.

Saya : Kamu tau gak kalau sekarang posisi passport Jepang menjadi yang terkuat di dunia?

S : Iya saya tau

Saya : Kabar ini cukup membuka mata saya akan sebuah fakta bahwa wajar saja anak-anak politik kuliah di Jepang. Awalnya saya sempat mempertanyakan kenapa mereka belajar di sini. Karena setau saya ini adalah negara teknologi. Bukan negara politik. Namun dengan adanya fakta ini, saya menyadari bahwa ada hal yang menarik dalam dunia diplomasi Jepang. Cukup menarik buat saya, karena negara saya saat ini hanya di posisi 67

S : Menurut saya Indonesia dan Jepang bedanya gak jauh deh

Saya : kamu salah besar, ada banyak perbedaan dari negara kita berdua.

Saya melihat S chan bukan lah sosok orang yang suka memuji-muji negaranya sendiri. Bahkan cenderung banyak memberikan informasi baru tentang hal jelek dari negaranya. Bagi saya S chan adalah anomali. Dia sosok “kuno” yang modern. Sosok tradisional namun futuristik. Dia adalah definisi Jepang dalam wujud manusia. Ketika orang-orang seumurnya lebih menyukai lagu-lagu anime, dia malah menyukai musik sejenis Enka. Ketika anak-anak seumurnya menyukai softball, dia malah menyukai Kyudou (olahraga panahan Jepang). Ketika anak-anak seumurannya sudah tidak bisa lagi membaca kertas mantra-mantra dalam buddism dan shinto, dia malah duduk di depan altar dan membacakan doa-doa untuk kakeknya. Ketika anak – anak muda seumurannya memilih untuk menjadi salary man, maka dia memutuskan untuk menjadi seorang professor. Dia adalah masa depan dunia akademis Jepang. Seperti sosok professor saya di masa muda. Mungkin.

Saya : Jepang bisa berada di posisi seperti ini karena Jepang memberikan donasi kepada negara-negara tetangganya, turis Jepang memberikan pemasukan yang besar untuk negara yang dikunjungi. Ini sangat berbeda dengan negara saya. Turis dari negara saya tidak banyak yang suka berbelanja skala besar seperti orang Jepang. Dan satu hal yang penting, Jepang adalah negara yang jauh dari isu terorisme. Sedangkan Indonesia hal ini masih segar

Kemudian dia membalas pernyataan saya

S : Jangan salah, Jepang dulunya adalah negara yang sangat tidak aman. Terjadi pemboman di beberapa tempat. 25 Tahun yang lalu, terjadi pengeboman di area Tokyo karena ulah suatu organisasi yang mengkultuskan sesuatu,

Saya: Namun sekarang kan sudah tidak ada lagi.

Kemudian posisi pembicaraan kami semakin serius. Dua cucu dari dua negara yang berbeda dengan warna bendera yang sama membicarakan masa lalu. Berbicara mengenai apa-apa yang telah dilakukan oleh nenek moyang kami terdahulu.

merah putih

Saya : Apakah keluargamu ikut berperang?

S : kita harus mendefinisikan dulu apa arti bergabung dalam perang

Saya : maaf kalau isu ini sensitif.

S: bagi saya gak masalah. Saat itu seluruh kalangan ikut berperang. Dari pelajar hingga pekerja. Berita untuk ikut berperang disebarluaskan dalam surat kabar. Rakyat ikut bergabung.

Saya: wow permasalah edukasi antar negara kita tampaknya memang berbeda 100 tahun. Universitas pertama di Indonesia di didirikan pada tahun 1920an sedangkan di negaramu sudah ada sejak tahun 1800an. Pun penggunaan koran secara resmi baru digunakan pada tahun 1940an dinegara ku, sedangkan di negaramu sudah ada sejak abad 17. Permasalahan masa lalu, aku gak tau apa yang dilakukan oleh kakek moyangku pada masa itu.

Sebenarnya saya cukup canggung untuk membahas tentang perang. Pertama, saya ini hanyalah menumpang di negara orang. Kedua, posisi saya adalah sebagai cucu dari sebuah negara yang dijajah sedangkan dia adalah cucu dari orang yang menjajah. Ketiga, pertama kali saya berbicara blak-blakan tentang masa lalu antar negara kami. Biasanya saya tidak membahas ini dengan orang Jepang.

S : Kamu juga harus tahu, bahwa penggunaan bom itu awal-awalnya marak digunakan di negara ini. Kemudian baru digunakan di negara lain. Bukan cuma dari sejak Amerika melakukan pengeboman di negara ini, dari sebelum-sebelumnya sudah ada.

Saya : Bukannya Amerika melakukan pengeboman karena negara kamu yang nyerang Pearl Harbour duluan? Ada banyak gosip yang terjadi dari permasalahan peperangan ini. Saya dengar beberapa masyarakat ada yang senang karena dulunya pimpinanmu terkenal sangat bengis. Namun ada juga yang gak senang.

S : Sebenarnya bukan diawali dengan Pearl Harbour, Amerika memaksa negara ini untuk berhenti menjajah China. Kamu tau, dulu Jepang ini tidak ada sumber daya alam, misalnya karet, minyak, tembaga.  Untuk mendapatkan hal-hal yang dibutuhkan, harus mencari ke negara lain. Rakyat awalnya senang, karena berharap akan mendapatkan uang yang banyak.  Namun ternyata hal itu makin lama makin mengecewakan, karena biasanya negara yang kalah perang harusnya membayar kepada negara yang menang. Namun ternyata negara yang ditaklukan tidak memberikan apa apa. Yang ada malah pajak dinaikkan. Rakyat semakin miskin . Sehingga banyak yang terjadi selanjutnya

Kami sama-sama tau apa yang terjadi di Perang dunia ke-2. Kami sama-sama mengerti bahwa negara kami mempunyai sejarah yang tak akan terlupakan bagi salah satu sisinya. Pada perang dunia ke-dua, Jepang menjajah Indonesia. Pada perang dunia ke-dua pula, Jepang kalah perang. Jepang berusaha memperbaiki luka-luka masa lalu dengan bergerak ke arah lebih baik. Jepang dulunya sempat menjadi kakak tua nya Indonesia. Namun dalam bersaudara, kadang perkelahian tak terelakkan. Dan sebagai kakak yang lebih tua, Jepang kembali mencoba menjaga hubungan baik dengan Indonesia serta negara-negara lainnya.  Tak heran perbuatan itu kini sudah mulai muncul buahnya. 189 negara mempercayai Jepang untuk masuk ke negara mereka. 189 menjadikan Jepang sebagai negara dengan passport terkuat. Akankah Indonesia sebagai seorang adik akan mengikuti jejak langkah abangnya? akankah dari peringkat 67 Indonesia mampu berdiri sejajar dengan Jepang nantiny?

S benar, sebelum membahas tentang perang, memang ada baiknya untuk menyamakan persepsi tentang apa – apa yang terjadi. Kami hanyalah sebuah paradoks. Status kami berbeda. Kami berada di dua sisi dan mengalir di darah kami darah-darah yang berlawanan. Namun darah yang mengalir ditubuh kami sama-sama membela satu hal. Merah putih, meskipun rupanya berbeda.

Meskipun rupanya berbeda….

 

Di matanya aku melihat masa depan Jepang.

Apakah di matanya dia melihat masa depan Indonesia pada ku?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s