Catatan PhD #17 Aburayama – part 1-

Lets bring back dilla to her home, forest-kay

The location of Aburayama

Salah satu anak iseng di lab memanggil saya sebagai forest jin (orang Hutan). Hal ini di awali karena kejadian saya mempromosikan daerah di sumatra barat yang penuh dengan hutan saat dia pamer lokasi area balap mobil di Kumamoto yang penuh hutan.

a : Lihat, lokasi balap mobil di Kumamoto ini bagus kan? Kemarin aku ke sini untuk mencoba arenanya

saya: yang kaya ginian mah di negaraku ada banyak

a. Ah iya, kan kamu banyak hutan di sana

saya: kampret

Lalu kami berdua tertawaa di saat orang lain sedang mempresentasikan hasil riset  mereka. Bener-bener kegiatan kouhai senpai yang gak patut ditiru.

Saya : Bahasa Jepangnya Hutan apaan sih?

ucap saya kepada Sho saat kami berdiskusi mengenai perjalanan kami untuk berkeliling pulau Kyushu. Sekian lama saya di Jepang, tidak terlalu banyak kota di pulau Kyushu yang saya singgahi. Hal ini dikarenakan sponsor atau kegiatan yang saya punya hanya diadakan di kota-kota di pulau Honshu. Ide perjalanan ini sebenarnya diinisiasi oleh Kay, si anak exchange dari Thailand yang demen banget naik gunung. Sedangkan saya sebagai senpainya udah beberapa kali cuma bisa kasih janji.

Sho : Mori.

Saya : wah berarti saya Mori Jin. Ah, Saya Dilla Mori. Kogoro Mori eh bukan Ran Mori

Pada awalnya anak-anak pada gak ngeh siapa yang saya maksud. Setelah saya sebutkan judul komik ternama yang berjudul CONAN barulah mereka ngeh siapa yang saya maksud.

Sho : Mouri bukan Mori, beda kali.

Saya : ya kan kedengarannya mirip. #Tehe Jadi kapan kita akan mulai melakukan pendakian? masih bulan ramadhan nih. Paling cepet sih minggu depan, Tanggal 2 Juni. Pada mau gak?

Begitulah awal ceritanya saya, Kay dan Sho melakukan pendakian. Awalnya gunung yang hendak di daki adalah gunung Hiko yang terletak diperbatasan Saga-Fukuoka. Namun berhubung memakan budget yang lumayan ketinggiannya yang 1200 m membuat kami urung melakukan pendakian dalam waktu dekat. Aburayama menjadi tujuan petualangan pertama kami dikarenakan lokasinya yang terletak di Kota Fukuoka dan merupakan gunung tertinggi di kota Fukuoka.

Dalam hal eksplorasi, saya dan Kay mempunyai hal yang sama. Kami sama-sama seorang budget traveling yang medit dan pelit dalam urusan ongkos. Namun ternyata, Kay lebih gila lagi. Untuk bertemu di titik point, dia memilih untuk menggunakan Sepeda dari Itoshima ke Fukuoka University. Jarak yang dia tempuh untuk sekedar mencapai titik point itu adalah 18 KM.

saya : Si Kay bakal naik sepeda tuh, dari asrama ke Fukudai mae

Sho : Emang dia bisa? gapapa tuh abis naik sepeda langsung daki gunung

Saya: Dia kan orang gila. Bisa sih bisa, cuma kita dikejar waktu sih. Ini aja katanya dia masih di Maebaru. Sedangkan bus kita ke stasiun gunung aburayama jam 9:27 which is setengah jam lagi. Gak bakal ke kejar nih. Yaudah sarapan dulu

Kemudian saya dan sho memakan sarapan pagi kami. Saya terus-terusan mengajak Sho untuk makan mentaiko, dengan harapan dia jadi suka ama mentaiko. Karena mentaiko untuk ukuran orang Jepang adalah makanan yang pedas. Jelang 3 menit bus sampai, saya dan Sho mendapat telpon dari Kay. Kay melaporkan bahwa dia sudah tiba di titik pertemuan.

Saya : eh gila, kok bisa kamu sampai dalam waktu sedemikian cepat. Bukannya harusnya lebih dari sejam ya. Tapi ya gimanapun juga kita juga udah gak mungkin dapat bus ke sana. Kamu ke sini deh. ke kafe ini.

Ucap saya sambil mengirimkan titik lokasi kami.

Akhirmya kami bertiga berkumpul di kafe dan mencari solusi untuk berangkat ke gunung.

saya : bus selanjutnya jam 11:34, gimana mau tunggu bus atau naik taksi?

Kemudian saya meminta para bocah untuk melihat jarak antara kafe tempat kami nongkrong dan lokasi bus stop gunung aburayama.

Saya : wah jaraknya cuma 5 Km.

Kay yang sudah mengetahui isi otak saya memasang wajah “gw tau lu mikirin apa”

Saya : jadi pilihannya, kita nunggu bus, naik taksi atau jalan kaki. Pilihannya saya serahkan ke kalian berdua.

Singkat cerita kami memutuskan untuk berjalan kaki. Beruntung Sho bukan tipikal orang Jepang yang suka hal-hal serba mahal. Saya pernah berkata pada Sho.

Sekali kamu mencoba gaya hidup backpacker, kamu akan ketagihan. percaya deh

Berhubung kami ini adalah manusia yang selalu tinggal di kawasan “laki-laki”. Kampus Fukuoka University membawa angin segar buat Kay. Setidaknya buat Kay. Karena cewe-cewenya banyak plus cantik-cantik. Wajahnya tersenyum sumringah setiap melihat cewek cantik lewat.

Saya : Gw laporan ke cewe lu mampus lu

Starting Point – Fukuoka University Hospital

 

Bersambung

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s