CATATAN PHD #19 ABURAYAMA PART 3

Cerita sebelumnya :

Part 1

Part 2

Setelah sampai di Shimin no mori, kami makan siang. Lalu setelahnya melanjutkan perjalanan hingga ke Observatory area di Aburayama. Pemandangan yang kami liat dengan mata memanglah spektakuler. Fukuoka merupakan kota yang dipenuhi dengan hutan beton. Gedung-gedung tinggi tersebar di mana-mana dan di belah oleh jalan tol yang sangat panjang.

Energi kami kembali penuh meskipun sebelumnya kami tersesat dalam waktu hampir dua jam. Kami 3 pemuda yang berasal dari 3 negara mempunyai satu tujuan plus, yaitu menggapai puncak aburayama plus makan es krim di Momoland. Tak jauh dari observatory area, kami melalui suspension bridge. Seperti jembatan pada umumnya, jembatan akan bergoyang bila kamu loncat-loncat. Dan Kay melakukan hal tersebut, mengakibatkan jembatan tersebut bergoyang. Dasar bocah!

download_20180603_0843161569108565.jpg
Suspension Bridge, Aburayama

Kami pun kembali masuk ke dalam hutan. Kali ini tanpa tersesat sama sekali. Hal ini dikarenakan peta gunung sudah kami genggam. Dua lelaki yang mendaki bersama ini tampak seperti manusia yang punya kekuatan super. Seperti gak capek-capek. Sedangkan saya sudah seperti nenek-nenek kecapekan karena menempuh perjalanan jauh.

 

Jalan yang kami lalui dipenuhi dengan dedaunan kering yang cukup tebal. Untung saya menggunakan celana panjang dan sepatu. Berbeda dengan tahun 2014 lalu, dimana saya menggunakan sendal. Gak kebayang bila pada pendakian kali ini saya menggunakan sendal, tentu sepulangnya dari pendakian badan saya akan gatal-gatal karena ketempelan serangga dan cacing. Di tahun 2014, saya mendaki pada bulan november, di mana binatang-binatang melata di hutan sudah mulai kembali masuk ke dalam tanah. Sedangkan pada pendakian 2018 ini saya mendaki pada awal musim panas, di mana binatang-binatang melata mulai keluar dari sarangnya. Gak kebayang bila saya dan teman-teman melakukan pendakian pada saat puncak musim panas. Mestilah banyak binatang yang nyangkut di badan kami. Di perjalanan kali ini hanya 2-3 cacing/ ulat saja yang nempel di badan saya.

download_20180603_123807-1105508543.jpg

Dalam setiap pendakian, saya tidak pernah mau meremehkan permasalahan kedinginan. Meskipun Aburayama tergolong gunung yang kecil (597 m), saya membawa 3 jaket. Karena yang namanya gunung kita selalu harus punya plan B. Setidaknya penghangat badan. Salah satu rekan sejalan saya pernah mengidap Asma, namun saya tau dia tergolong cuek dengan kesehatan. Maka sebagai senpai yang care, saya sudah menyiapkan beberapa pereda asma.

Jaket, teh hitam hangat merupakan cara ampuh untuk meredakan Asma, selain kamu harus berusaha untuk membuat orang yang terserang asma tetap dalam keadaan tenang

Tas saya pada awalnya dipenuhi dengan beberapa hal yang disebutkan sebelumnya dan ditambah dengan bekal makanan serta 2,5 Liter minuman. Jadilah bawaan saya rasanya berat sekali. Beruntung juga punya teman seperjalanan seperti Kay dan Sho. Pada akhirnya mereka yang membawakan beberapa barang saya. Di titik seperti ini saya mengakui bahwa saya adalah seorang Obaachan. Kadang saya menyebut diri sebagai ibunya mereka.

 

download_20180603_084320-2129305768.jpg
Pemandangan dari puncak Aburayama

Satu jam dari Shimin no mori, sampailah kami para pemuda pejalan kaki lintas kecamatan di puncak Aburayama.

img_20180603_123408-807427546.jpg
Kami akhirnya sampai dipuncak sesuai target yang kami tentukan. Sebelum jam 3 sore!

Dari perjalanan menuju puncak, hal – hal yang saya dapatkan tentang hidup salah satunya sebagai berikut:

Jangan pernah meremehkan tekad manusia. Ketika manusia sudah bertekad, maka kelemahan akan lenyap. Dari perjalanan ini saya yang awalnya harusnya jadi pemimpin perjalanan menjadi sosok yang terlemah. Kadang kita gak bisa melawan takdir alam. Kekuatan tubuh laki-laki  sudah naturalnya untuk lebih besar daripada perempuan. Karena pada umumnya kaki mereka lebih panjang daripada perempuan. Setidaknya untuk Sho dan Kay

Selepas dari mendaki, tentu saja tujuan kami adalah turun. Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, bahwa tujuan dari petualangan ini selain mencapai puncak adalah makan es krim di Momo land. Kembali kami turun gunung dan sedikit nyasar. Kali ini waktu untuk turun kurang lebih satu jam.

dsc_0052-2126374168.jpgdsc_00511669637184.jpg

Namun tetap saja pada akhirnya kami bisa memakan es krim!!!

dsc_00531728817643.jpg
Momoland, kaki gunung Aburayama

Selepas makan es-krim kami kembali ke Shimin no mori, tujuannya adalah untuk menaiki bus menuju Fukudai byouin Mae (Fukuoka Hospital University), starting point kami.

dsc_0054-2105440504.jpg
Perjalanan yang telah kami tempuh kurang lebih dari Maidashi ke puncak Aburayama

Berdasarkan aplikasi dari Handphone nya Sho, kaki kami telah melangkah kurang lebih 28000 langkah. Dan itu terukur baru sampai puncak aburayama. Tau gak fakta selanjutnya yang terjadi? Ternyata bus pada hari sabtu tersebut tidak beroperasi!! orang kantor menyarankan kami untuk menginap dan mengambil bus di hari sabtu, atau berjalan kaki ke kota. Ya tentu aja gak ada jalan lain, sama seperti keberangkatan kami. Pulang pun kami memutuskan untuk berjalan kaki lebih dari 5 Km menuju area Fukudai byoin Mae.

img_20180603_123122-01-523589233.jpeg
Turun dan naik gunung wajah tetap gitu-gitu aja. Kirain nambah cantik gitu.

Perjalanan turun memang lebih melelahkan. Kaki saya dan Sho sudah mulai bergetar. Namun kami tidak boleh dan tidak mungkin berhenti, karena starting point kami masih 5 KM jaraknya. Kali ini Kay yang punya kekuatan bak dewa, karena gak capek-capek juga mulai menurun. Motivasi kami kali ini bukanlah makan es krim. Tapi makan malam. Restoran yang terpilih kali ini bernama Yamato.

screenshot_20180604-02170885473413.png
Restoran Hits yang didirikan sejak tahun 1980 ini menunjukkan kelas yang berbeda antara Mahasiswa kampus negeri dan kampus swasta

Lagu – lagu pilihan di restoran ini sungguh Catchy. Semuanya lagu-lagu asing. Dan design interior dari ruangannya juga sangat stylish. Sebagai anak Kyudai, saya tidak pernah melihat restoran JEPANG se hypebeast ini di dekat lingkungan kampus. Di tambah dengan orang-orang yang makan sungguh stylish. Beda banget dah ama gaya anak-anak kyudai. Tapi kami ber3 tentu saja tampak lebih dekil dibanding pengunjung lainnya. Jelas lah, kan baru turun gunung #carialasan

Walaupun restoran ini terkesan “mahal” namun ternyata makanan yang kami pesan harganya murah. Ukuran super jumbo bagaikan kuli, mengakibatkan saya dan Kay tidak bisa menghabiskan makanan kami. Padahal di Jepang, makanan yang telah dipesan sebisa mungkin harus bisa dihabiskan. Jadilah saya meminta Sho membantu menghabiskan makanan saya

Chicken Karaage, Yamato restaurant
Super duper jumbo

Terakhir sebelum berpisah, kaki kami dan seluruh badan kami terasa pegal, ditambah dengan perut yang kepenuhan oleh makanan. Jadilah petualangan hari itu menjadi super duper luar biasa.

Ya, begitulah kisah petualangan Aburayama. Tunggu petualangan lanjutan kami ya!!

 

gw tau apa yang salah dari perjalanan kali ini, gw salah sebut nama daerah. Maksud gue Meinohama bukan maebaru – Kay

Beh pantesan aja lu bisa sampai ke titik temu lebih cepat dari dugaan gue…

 

 

 

OTSUKARESAMADESHITA

Ringkasan Perjalanan:

Tenjin (Nanakuma Line)- Fukuoka University – Jalan kaki ke puncak gunung – Fukuoka University – Tenjin.

ikuti aja ini 

 

Bonus Feature

Ringkasan Perjalanan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s