Catatan PhD #27 Semak-semak

Mendadak saya ngajakin si Kae untuk ngelakuin hal gila. Eh tepatnya saya ga tau itu gila atau nggak. Yang jelas otak saya suntuk. Akibat semalam report yang kirim ke prof belum juga ditanggepin. Sedangkan saat ini prof saya sedang keliling ASEAN. Ya daripada suntuk gak jelas, saya memutuskan untuk kembali mendaki gunung Bishamon Yama. Sebuah gunung di belakang kampus Kyushu University area Ito. Gunung ini tingginya gak sampai 200 meter dan cuma 6 KM dari kampus. Awalnya saya mau jalan kaki aja. Untuk nenangin pikiran. Saya memutuskan untuk ngajak Kae, karena dia adalah satu satunya orang gila yang tersisa kalau mau ngelakuin petualangan anti mainstream. Dia sama seperti saya. Suka traveling low budget sendirian atau sama orang orang gila yang sefrekuensi.

Seperti dugaan saya, Kae tertarik untuk ikut petualangan saya, tapi dia berencana untuk menyusul saya dengan sepeda setelah dia menyelesaikan kelas bahasa Jepangnya. Namun kebetulan saya juga ada agenda di kantor kampus, dan ternyata agenda saya selesai 30 menit sebelum kelasnya Kae selesai, maka saya memutuskan untuk menunggu dia. Sambil menunggu dia, akhirnya saya ketemu anak-anak Thai lainnya, lalu saya basa-basi bertanya :

Saya: “sejauh apa kalian pernah jalan kaki? rekor kalian seberapa jauh?

karena petualangan saya adalah petualangan gak jelas, maka “tes ombak” adalah hal yang wajib dilakukan untuk memutuskan orang tersebut layak diajak atau tidak.

Ternyata mereka sudah tau rencana saya yang akan mengajak Kae ke Bishamon yama. Tiba – tiba saya punya ide untuk meminjam sepeda anak-anak Indonesia di Kampus Ito. Dan yatta! bang Pandhe akhirnya memberikan pinjaman sepeda kepada saya. Jadilah akhirnya Saya, Kae dan anak Thai lainnya (Koala dan Spice), berjalan menyusuri sawah dan tiba ke gunung tujuan, Bishamon Yama.

Image result for bishamon yama
Jalur normal
Dasarnya Kae si bocah edan, bukannya make Jalur yang di atas, malah dia coba cari jalur short cut yang bener bener lewat semak-semak. Ada beberapa momen kami harus beristirahat sementara karena penglihatan saya aga gelap, ya wajar karena saya gak makan dari semalaman, namanya juga lagi nungguin konfirmasi prof. Setelah duduk beberapa menit, beberapa kali pula kami mengalami stuck di dalam semak-semak hingga harus kembali sedikit ke jalur yang telah dilalui.
dsc_0082-1724586799.jpg
Terjebak di dalam semak-semak tersebut untuk beberapa saat
Pada saat momen membelah semak belukar, ada beberapa duri yang nyangkut, dan kadang kami juga harus berpegangan pada akar. Saat kami melakukan pendakian cuaca cukup berangin. Angin semakin kencang ketika kami hampir sampai di puncak (entah ini ucapan selamat datang dari hutan, entahlah). Berkali -kali saya berteriak di dalam hutan ” Kae lu gila!! lu gila!” sambil tertawa-tawa. Dia tau bahwa saya sangat suka jenis petualangan kaya gini. Untung saja di saat kami merayap, tidak satu ular ataupun cacing yang kami temui. Hanya serangga-serangga kecil yang bentuknya mirip kecoa.
dsc_00811332437338.jpg
Si Bocah edan, Kae
Kae : Dilla, liat ke depan!

sambil membantu saya naik ke atas. Saya rasanya pengen menimpuki dia, karena kami benar-benar terjebak di dalam semak-semak

Saya : mana nih puncaknya!! gila lu

Kae: Ini kita udah dipuncak!,

lalu saya membalikkan badan.

sambil berteriak

Saya : Kae lu gilaaa!!!!!! *pake bahasa inggris

Kami semua tertawa, angin meniupi wajah kami. Kami menatap puncak dan menikmati momennya.

Saya : gila ini gak bakal bisa dilupakan ini, gunung yang gampang jadi susah dan penuh memori karena ini bakal jadi track pertama dan terakhir kita lewatin. Gila, Kae lu gila. Tapi terimakasih. Mood gw udah balik lagi.

dan lagi lagi saya berteriak ke alam

Saya : Kae gila!! , Dan saya mau wisuda!!!

man, momen ini gak ada duanya, momen mencapai puncak setelah menerobos semak belukar ini bagaikan naturegasm. (istilah baru gw, puncak kenikmatan ketika mendaki gunung)

dsc_0084-01795960359.jpeg
Mori no onna noko (forest girl)
beberapa moment sebelum mendaki gunung

Saya : lu tau kae, gw lagi sedih banget. dan lu tau bagi kita cuma main game atau shopping bukanlah stress release yang tepat. Maka kali ini ayo kita ndaki gunung. Walau dadakan. Yang penting stress gw hari ini hilang

The mountains have rules. they are harsh rules, but they are there, and if you keep to them you are safe. A mountain is not like men. A mountain is sincere. The weapons to conquer it exist inside you, inside your soul. -Walter Bonatti-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s