Agamanya apa?

Di era industri 4.0 ini perkara “agamanya apa?” bukanlah hal yang asing. Malah tampaknya semakin menjadi. Issu SARA pun semakin gampang ditemukan di lini media apapun di sudut bumi manapun. Ketika saya jalan dengan adik saya yang juga dari sumatra, selepas dia menjadi subject experimen, kami pun membahas perkara SARA. Spesifiknya sih isu sara yang terjadi di Indonesia. Jauh dari tanah air membuat saya selalu haus dengan cara pandang anak – anak muda yang tak terpapar terlalu jauh dalam kehidupan jauh dari Indonesia seperti saya. Sehingga bila bertemu, bukan pertanyaan “kapan kawin atau pacarmu siapa” yang bakal saya dan rekan ngobrol saya bahas. Melainkan

Apa kabar Indonesia?

Jujur semakin lama saya tinggal di Jepang dan selepas setahunan gak ikutan aktifitas PPI lagi, membuat saya menjadi “buta” keadaan Indonesia. Sumber berita tentang Indonesia hanya mampu saya akses melalui portal berita internet yang gosip-gosipnya cenderung memihak kegolongan tertentu. Padahal hampir saja saya ingin berkata persetanlah dengan gosip keberpihakan. Toh yang penting saya tau isu apa yang terjadi di Indonesia. Awalnya saya berpikir keberpihakan suatu portal berita ataupun forum hanyalah hembusan gosip dari orang- orang yang antipati pada suatu golongan. Hingga akhirnya ada suatu  moment dimana tulisan saya berkali kali dihapus oleh admin suatu forum.

ah wadah maya apalagi yang patut dipercaya, selain website saya sendiri? tapi bagaimana saya bisa dapat ilmu bila saya tidak berburu berita. Yang kini sumber yang mampu saya dapatkan hanya dari wadah online?

Dari situlah tampaknya kebiasaan ngobrol saya muncul kembali. Setiap pertemuan dengan para pemuda Indonesia adalah suatu pertemuan yang berharga. PNS kah mereka .. awardee beasiswa pemerintah Indonesia kah mereka.. semua penting. Selama mereka juga tertarik untuk mengemukakan cara pandangnya tentang Indonesia… ya tentang Indonesia.

Ada suatu hal yang menggelitik perut saya setiap kali berbincang dengan para pemuda Indonesia ini. Mereka adalah pemuda-pemuda yang taat pada agama dan saya yakini dalam perbincangan dan sharing cara pandang, mereka selalu mencoba menempatkan diri sebagai seorang muslim. Bukan sebagai minoritas ataupun sebagai Indonesia apalagi sebagai atheis.. *beh!.

Gejala inipun sebenarnya tidak hanya menjangkit para pelajar “kelas atas” Indonesia. Melainkan hampir semua mayoritas masyarakat Indonesia. “agamanya apa?” pun menjadi salah satu kata kunci populer yang dicari di lini mesin pencari. Hingga saya pun sempat berpikir ” mampukah kita melepas sekat dan ego keberimanan yang menjadikan seseorang tak netral malah condong? ”

Sebagai orang Indonesia, ternyata saya gak bisa… saya gak bisa untuk gak cari tau latar belakang keberimanan seseorang(Indonesian) ketika melihat cara bicaranya yang frontal. Ataupun kenapa orang ini memiliki cara pikir yang berbeda dari mayoritas tanpa mencari tau mengenai agamanya apa. Kenapa? karena agama pada dasarnya memiliki sekat-sekat yang beberapa pengikutnya meyakini bahwa sekat sekat itu absolut dan tidak bisa di dobrak.

ya kita masih dikungkung dengan cara berpikir seperti itu.. bukan melihat apa yang dibacanya, siapa teman sepergaulannya, ataupun bagaimana latar belakang pendidikannya. Melainkan, “ini orang agamanya apa ya?” kemudian baru kita mulai mencari benang merah buku apa yang dia baca ataupun apa pendidikannya siapa teman sepergaulannya.

 

Apakah saya salah?

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s