Catatan PhD #35 Isolasi

Aku melihat ke dalam matanya. Kami saling bertatapan. Menyelam lebih jauh ke dalam jiwa yang membuat pupil mata ini membesar. Mata ini cukup untuk  mengungkapkan bahwa betapa aku akan merindukannya setiap hari. Dan segala hal ini pun, cepat atau lambat akan berakhir hingga betapa besarnya rasa rindu yang kita punya, pertemuan sudah tak mungkin lagi. Karena aku pasti akan kembali. Kembali ke negara asalku.

Aku tak tau ada berapa hati yang patah bila kalimat ini merupakan kalimat denotasi tentang suatu rasa yang sedikit menganggu alam pikirku pada kenyataannya. Tapi anggaplah kalimat itu fiksi. Karena aku belum mampu untuk menyakiti hati para pengangum rahasiaku ataupun aku belum mampu mengakui bahwa belum pantas dan belum waktunya aku saling menyatakan rindu pada sosok yang bukan mahramku. Tapi lagi, aku perlu ingatkan karena web ini merupakan web kisah perjalanan PhD ku maka kisah romansa, cukuplah aku stop di sini.

Masih dalam upaya mengisolasi diri dari kegiatan apapun selain riset, tampaknya aku mulai membenarkan pernyataan sensei ku bahwa aku foolish bila ingin menulis 5 jurnal dalam waktu seminggu. Semakin ku selami data  yang ku miliki, semakin ku sadar memang ada banyak point yang harus digali lebih dalam.

PhD itu membutuhkan kedalaman berpikir. Bukan sekedar reportase dangkal. -sensei-

DSC_0016
Gunungan Jurnal yang bolak balik ku kulik (lebih dari 3 kali pastinya)

Kadang aku merutuk sendiri, betapa gampangnya jurusan sebelah mendapatkan gelar PhD mereka. Aku yang dibidang bioinformatik atau kadang disebut dibidang biomedical engineering ini harus menyentuh sekian banyak rupa jurnal baik itu dari engineering approach ataupun medical approach. Aku cukup iri dengan lab dengan dasar psikologi disebelah itu cukup hanya melakukan sedikit modifikasi dan publikasi lalu luluslah mereka di program PhD.

Tapi bukankah rumput tetangga memang selalu lebih hijau dan selalu terlihat lebih dangkal?

Terhitung hingga hari ini, berarti aku sudah mengisolasi diri selama 4 hari. Dalam 4 hari ini, aku menyadari ada banyak hal yang kurang dan harus diperbaiki dari cara pandangku dalam menghadapi suatu masalah. Dan sekali lagi, hubungan cinta dan benciku terhadap pemograman komputer menjadi lebih simple. Aku menemukan nikmatnya melakukan koding. Bahagianya ketika puzzle suatu logika harus diterjemahkan ke bahasa komputer.

me
Literally me

Tinggal beberapa hari lagi sebelum deadline ku menghampiri. Ternyata benar kata senseiku, bahwa program PhD memang sangat memerlukan suatu hal yang dipanggil sebagai FOKUS. Maka barang siapapun yang sedang melakukan penelitian dalam suatu hal, untuk menemukan masalah dan solusinya cobalah untuk fokus. Matahari yang sinarnya menghangatkan pun dapat membakar bila difokuskan ke satu titik. Maka untuk membakar semua problem riset ini, hendaklah fokus. FOKUS

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s