Catatan PhD #38 No brain

some people may have brain, but lack of empathy

Some people don’t deserve to think about more than it is needed -sahabat poland ku-

Yap ada sedikit drama ketika aku mengerjakan jurnal riset. Dalam waktu seminggu aku mengurung diri di kamar untuk menyelesaikan riset ku, namun seminggu setelahnya aku memutuskan untuk datang ke Lab, itung – itung untuk cari udara segar. Namun sayang bukan udara segar yang didapat tapi rasa muak yang sampai sekarang masih nempel dibatin. Maklum saja, aku tipikal orang yang bakal gondok sebelum perasaan ku aku keluarkan langsung ke orangnya. Namun karena ini sudah kejadian berkali-kali maka aku memutuskan untuk gak ngomong sama orang yang ga punya otak tersebut.

Adalah aku sebagai mahasiswa tahun akhir di lab, namun aku tidak mampu berbahasa Jepang. Sehingga sampai kapanpun aku melebur dengan teman-teman lab, aku akan dianggap sebagai mahasiswa internasional. Meskipun professorku selalu memperlakukan ku layaknya mahasiswa lokal. Di sisi lain ada tokoh yang berasal dari negeri tirai bambu. Mempunyai karakter yang aku bilang “ga punya otak”.

Iya sih dia keliatannya cerdas. Tapi menurutku dia bukan orang yang bisa make otaknya buat berinovasi dan ya ga punya otak. Kenapa aku bilang ga punya otak? karena tingkah sok superiornya membuat ku jengah (layaknya kaum tiongkok lainnya bila di dunia baito. Bossynya ngelebihin orang lokal).

Di masa aku mengerjakan jurnal yang sebenarnya hidup dan matiku dalam dunia PhD, dia malah mengadakan workshop di lab. Itupun tanpa pemberitahuanku. Bayangkan umpama kalian yang sedang nulis skripsi, diajak ngobrol satu orang aja bisa mengakibatkan batal nuliskan? Nah ini dia, tiba tiba ngajak segerombolan orang yang mungkin jumlahnya 7 orang, masuk ke dalam lab kami, lalu melakukan workshop.  Kebayang gak betapa kagetnya aku yang sedang fokus nulis.

 

Dia ga tau bahwa kalau sampai aku gagal submit, kemungkinan ku batal wisuda semakin besar. Otaknya mungkin ga sampe ke level mikirin kepentingan orang lain yang jauh lebih urgen dari kepentingan dia. Padahal dia bisa melakukan workshop di ruangan lain, tapi dia memilih di ruangan common lab tempat kami anak-anak lab mengerjakan proyek. Workshopnya gagal pun gak akan ngaruh apa apa ke kehidupan studynya dia. Dan waktunya dia wisuda pun masih 1 tahun lagi.

 

Aku tak bermaksud menjelekkan orang orang dari negeri tirai bambu. Tapi masalah attitude dan empathy. Aku rasa itu revolusi mental yang wajib mereka dan pemerintah mereka lakukan. Sebelum orang orang semakin membenci mereka sampai ke ubun-ubun.

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s