Catatan PhD #40 Mencegah depresi

Siapa bilang kuliah PhD itu gampang? musuh terbesar yang anda alami ketika anda menjalani PhD adalah diri anda sendiri. Nafsu untuk menyerah yang harus anda kalahkan dengan keinginan untuk wisuda lebih besar. Ada banyak kasus dimana pada akhirnya para pejuang PhD memilih  untuk drop out karena dirasakan PhD berubah makna menjadi permanent head damage  dibandingkan dengan Philosophy Doctor. Berbagai pil ditelan untuk tetap “waras”. Bahkan keluar masuk rumah sakit karena upaya bunuh diripun juga ditemukan pada beberapa kasus pejuang PhD. Tak heran bila banyak penelitian ataupun artikel yang menyatakan bahwa mahasiswa PhD sangat rentan dengan yang namanya depresi.

Ketika memasuki masa penulisan artikel ilmiah, saya menjadi orang paling bermasalah di lab. Suatu kejelekan, ketika beban di otak saya banyak maka saya akan melampiaskannya ke orang-orang yang saya sayangi. Sho adalah salah satu yang selalu berusaha mendukung saya semampunya dia. Bayangkan ketika saya sedang panik-paniknya, saya selalu marah-marah ke dia. Teman saya yang lain pun juga kena imbas, sampai dia bilang ” coba kamu minum pil ini”

yap, teman saya menawarkan obat penenang yang biasanya dia konsumsi juga. Saat itu reflek saya menjawa “TIDAK”.

Saya memang emosian, tapi emosian yang saya punya belum masuk ke kategori depresi. Apa itu depresi?

Depresi adalah kondisi yang disebut juga dengan depresi berat atau depresi klinis. Depresi juga bisa digambarkan sebagai suatu kelainan mood yang menyebabkan perasaan sedih dan hilang minat yang menetap.

Itu sih kata hasil pencarian di google.

Lalu bagaimana kiat-kiat para pejuang PhD agar terhindar dari serangan depresi?

Berdasarkan hasil wawancara saya dengan teman-teman senasib, maka inilah rangkumannya:

  1. Punya teman sekamar, yap karena saat anda melakukan PhD anda akan berjuang sendirian (ya atau bareng professor lah), Ada baiknya ketika anda pulang ke rumah kesendirian itu tidak mengikuti. Setidaknya adalah yang ngejawab salam mu ketika balik ke rumah
  2. Melakukan hobi, ya pasti ketika anda menempuh PhD supervisor anda menyarankan untuk fokus saja pada PhD. Tapi perlu dicatat bahwa anda adalah manusia, bukan robot. Melakukan riset terus menerus, selain membuat otak anda menjadi butek dan buram dapat membawa anda ke jurang depresi
  3. Ngobrol… ya ngobrol adalah teknik terapi yang paling ampuh dalam berjuang saat menempuh PhD… jadi.. jangan diam diam bae.. kopi ngapa
  4. Mendapatkan support dari orang yang di sayang…. (dan ini adalah power yang paling kuat, setidaknya menurut saya)

 

Begitulah hal kongkrit yang bisa dilakukan untuk mencegah depresi ketika menempuh PhD

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s