Catatan PhD #43 random

Setiap manusia mempunyai luka yang ditanggung sendiri, beberapa memilih untuk menyembuhkan lukanya. Namun banyaknya manusia memilih untuk menekannya di relung hati yang terdalam, menanti waktu luka itu meledak menyemburkan darah panas.

Harusnya ini menjadi semester terakhirku di Jepang. Namun ternyata sensei ku belum memberikan kepastian, pantaskah aku mendapatkan gelar doktor di akhir maret nanti atau tidak. Menunggu kepastian dari beliau, yang bisa aku lakukan adalah kembali menulis jurnal yang ke dua. Selain itu tentu saja melakukan liburan (sebagai pelepas lelah).

DSC_0022
Saya sudah tidak mampu lagi menghitung purnama. pun jadi ragu, apakah benar saya akan terjebak selamanya di negeri ini?
IMG_20181123_140603
Puncak Homanzan (siapa sangka 2018 akan kembali ke sini, (terakhir 2015)

Lepas mendaki gunung serta melihat keindahan Momiji bersama teman-teman, akhirnya saya mempunyai waktu untuk menulis di blog ini. Karena saat menulis ini badan saya cukup remuk dan agak pusing, efek mendaki dalam cuaca dibawah 15 derajat dan pulang jam 11 malam, setelah bercakap dengannya.

love
In the end we will say goodbye to each other, don’t we?

Saya pernah katakan, bahwa dia berbeda. Dia yang berjalan bersama saya dan mencoba melindungi semua orang. ya, literally semua orang. Dia sosok paradoks, kuat tapi lemah, dewasa tapi kekanakan, ceria tapi pendiam, modern tapi kuno. Satu yang bukan paradoks, dia mencoba untuk menjadi sosok yang disayangi semua orang, hingga lupa bahwa dia sendiri adalah seorang manusia yang harusnya punya ego sendiri. Maka dari itu saya sudah duga bahwa dalam Harry Potter universe, dia adalah seorang Hufflepuff.

Kalian pasti berpikir bahwa saat ini saya sedang bercerita tentang sosok yang saya cintai bukan? Atau saya salah?

Pada catatan PhD kali ini, saya belajar tentang budaya orang lokal. Saya memahami bahwa mereka paling jago dalam perihal poker face. Namun untuk makhluk sensitif seperti saya, ada banyak situasi pokerface gak mempan. Dan pada dirinya saya merasakan ada luka yang amat dalam.. dalam hingga tunggu waktu untuk meledak.

 

saya : Kamu manusia, manusia mestinya menunjukkan emosi

dia :Ibuku bilang, marah hanya untuk orang lemah. Aku tidak boleh menunjukkan emosi ku yang sebenarnya

saya : dan lama lama kamu bakal gila.

dia : aku udah gila

saya : aku tau kesakitanmu sudah menumpuk-numpuk. Biar aku sembuhkan

dia: kamu bukan dokter

saya : ya aku bukan dokter..

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s